Awal Perjalanan 3

 Shalom Aleichem,

kita kembali bertemu di dalam Perjalanan Filsafat. Pada tulisan ini, kita akan berkenalan dengan filsafat dan teologi, memperoleh sedikit konteks filosofis dan teologis lalu pada tulisan berikutnya perjalanan akan dimulai. "Filsafat" berasal dari kata dalam bahasa Yunani yaitu "philosophia" yang terbentuk dari 2 kata yaitu "philo" artinya cinta dan "sophia" yang artinya kebijaksanaan. Maka filsafat secara etimologis adalah cinta kepada kebijaksanaan. "Teologi" juga berasal dari bahasa Yunani yaitu "theologia" di mana "theos" artinya Allah dan "logos" artinya pembelajaran atau penalaran. Jadi teologi secara etimologis adalah pembelajaran yang Ilahi.

Kita dapat menghubungkan dan mempersatukan kedua ilmu ini. Filsafat adalah cinta akan kebijaksanaan, mengapa seperti itu? Pertama kita dapat mengartikan kedua istilah yang terlibat, cinta dan kebijaksanaan. Cinta dalam konteks ini adalah kesukaan, kekaguman, dan ketertarikan. Kebijaksanaan lebih sulit diartikan, tapi dapat diartikan sebagai pemahaman yang baik dan benar dan kemampuan menerapkan pemahaman tersebut. Namun ada pengertian yang lebih mendalam. Cinta adalah kehendak untuk memperoleh apa yang dicintai dan juga menghantarkan yang dicintai itu kepada kebaikan. Kebijaksanaan tidak lain dan tidak bukan adalah pemahaman akan yang Baik dan Benar (bedakan dengan sekadar baik dan sekadar benar), artinya Allah, dan kemampuan menerapkan Allah dalam kehidupan. Sementara itu apa itu pemahaman akan Allah? Teologi. Jadi teologi yang murni dan sejati adalah Kebijaksanaan. Maka filsafat adalah cinta akan teologi. Dengan itu filsafat dan teologi tersatukan dan terkait.

Ada komentar yang lebih lanjut yang lebih mendalam. Kebijaksanaan adalah pula pencerahan budi dan batin, di mana kita memahami Kenyataan yang Tertinggi. Namun apakah Kenyataan Tinggi kalau bukan Kenyataan Ilahi? Maka filsafat adalah cinta akan pemahaman akan Allah itu. Mengapa disebut cinta akan pemahaman akan Allah, dan bukan pemahaman itu sendiri? Karena manusia tidak dapat menggapai Allah dengan usahanya sendiri. Hanya Allah yang dapat memberikan Kebijaksanaan atau Sophia kepada budi manusia. Jadi manusia hanya dapat mencintai tanpa memperoleh dengan usahanya sendiri. Sementara teologi diperoleh sepenuhnya dari Allah, dengan bantuan filsafat untuk menerangkan istilah atau bahasa teologis yang tidak dapat dipahami secara konvensional.

Jadi filsafat adalah Iman, jawaban manusia terhadap panggilan Allah untuk mencapai Dia, dan teologi adalah pemberian Allah kepada manusia, Kebijaksanaan yang kita sangat dambakan itu. Kalau kamu mengingat lukisan terkenal di Kapel Sistina di Vatikan, di mana terlukis manusia berusaha menggapai Allah dan Allah berusaha menggapai manusia, ya seperti itu relasi antara filsafat dan teologi. Filsafat berusaha mencapai teologi dan teologi juga berusaha mencapai filsafat, sampai keduanya bertemu dan bersatu. Apakah persatuan antara filsafat dan teologi? Jawabannya, aku tidak dapat dan belum dapat mengungkapkannya sekarang, kita akan menemuinya perlahan-lahan.

Tulisan di atas adalah refleksi kontemplatif dari filsafat dan teologi. Sekarang kita coba kupas pemahaman yang sedikit lebih "formal" dari kedua ilmu ini. Teologi secara tegas adalah pembelajaran akan Allah, itu saja. Namun filsafat sedikit lebih abstrak, filsafat dalam pandanganku adalah pembelajaran akan 3 hal yang disatukan oleh 1 hal. Filsafat adalah pembelajaran tentang Kebaikan dan Kebahagiaan, dimulai dari hal-hal yang pertama, lalu ada hal-hal yang terakhir, dan ada hal-hal di antara keduanya, atau Perjalanan. Namun kita sudah tahu bahwa Kebaikan berada pada Allah, jadi filsafat dan teologi sebenarnya sama saja, hanya dari "2 perspektif yang berbeda".

Perbedaannya adalah di mana teologi adalah tentang Allah saja, filsafat cenderung berbicara tentang Allah dan juga ciptaan, dan lebih fokus pada ciptaan. Di mana teologi mengandalkan wahyu sebagai tumpuan pengetahuannya, filsafat mengandalkan pengalaman komprehensif manusia sebagai tumpuan pengetahuannya. Karena itu keduanya saling membutuhkan, filsafat dibutuhkan untuk menerjemahkan Allah kepada dunia aktual, dan teologi dibutuhkan untuk memastikan bahwa filsafat tetap terarah kepada Allah dan juga memiliki maknanya. Karena tanpa filsafat, teologi itu tidak dapat kita pahami, dan tanpa teologi, filsafat itu tidak ada maknanya alias tidak berguna.

Sayangnya, kalau kita memperhatikan sejarah filsafat dan teologi, keduanya kurang akur dan sekarang bercerai, walau tidak sepenuhnya. Teologi cenderung berjalan sendiri dalam jalan agama tanpa pegangan filsafat, maka banyak orang beriman secara buta dan banyak pula yang meninggalkan imannya karena melihat bahwa imannya "tidak dapat diterima akal budi", ya tidak dapat diterima akal budi manusia yang standar. Sementara kalau orang beriman diajarkan filsafat dalam cara yang mudah diserap dan juga dasar filosofis setiap ajarannya, pasti lebih banyak yang bertahan karena mereka sudah memahami dan mengetahui.

Filsafat juga sekarang cenderung berjalan sendiri dan lihatlah apa yang terjadi tanpa teologi, kejatuhan filsafat dari posisi mulianya dan sekarang filsafat dipandang sebagai ilmu yang tidak berprospek dan tidak realistis untuk digeluti. Filsafat juga mandek, dan seolah-olah telah digantikan oleh ilmu pengetahuan yang dikuasai oleh materialisme, naturalisme, dan fisikalisme. Ya filsafat dulu memang memiliki pengaruh, tapi kenapa sekarang terkesan tidak terdengar lagi suaranya dan juga dianggap sudah "selesai"? Padahal kalau kita jeli, justru waktu kritis seperti inilah di mana filsafat dan pasangannya teologi sangat dibutuhkan untuk memimpin umat manusia kepada keselamatan.

Maka dalam perjalanan ini kita akan mempersatukan kembali filsafat dan teologi. Kita akan mengeksplorasi konsep-konsep filsafat dan teologi dalam suatu alur yang jelas, dari awal yaitu Allah, lalu ke ciptaan, dan akhirnya kembali kepada Allah. Perjalanan ini akan disajikan dengan gaya bahasa yang sejelas mungkin dengan berbagai contoh supaya kamu dapat memahami semua konsep dengan baik. Ada 3 tahapan filsafat-teologi, yaitu Metafisika, Epistemologi, dan Etika, dalam urutan tersebut. Metafisika berbicara tentang Keberadaan, Epistemologi tentang Kesadaran, dan Etika tentang Pengalaman. Dalam tulisan berikutnya perjalanan secara resmi dimulai dan kita akan segera berangkat, sampai jumpa!

Comments

Popular Posts