Perjalanan Batin Ignas

Pendahuluan

Setiap orang rindu akan Allah. Hal ini dibuktikan dengan fakta bahwa setiap orang merindukan Kebahagiaan. Bukti kedua adalah fakta bahwa seolah-olah kebanyakan manusia selalu menginginkan lebih dan lebih, artinya kita rindu pada suatu kenyataan yang tidak terbatas. Ketidakterbatasan dan Kebahagiaan adalah 2 esensi Ilahi, dan di mana disatukan adalah Satu Kenyataan Ilahi yang Tunggal, yaitu Allah. Allah adalah Sumber Kebahagiaan yang Sejati dan Tiada Berkesudahan. Aku pun juga merindukan Allah, barangkali salah satu orang yang sangat rindu kepada Dia.

Ah, tapi hendaknya aku memperkenalkan diriku sendiri dulu. Salam kenal, namaku Ignas Christianto Galih Prasetyo, yang kalau hendak kuterjemahkan artinya kurang lebih adalah, "Api sumpah setia Kristen yang tangguh". Apakah pribadiku memenuhi doa tersebut, aku tidak tahu, hanya Allah yang tahu. Pendahuluan ini aku buat supaya para pembaca, yaitu Anda sekalian, tidak kaget, risau, atau bingung dalam membaca buku ini dan maknanya yang mendalam.

Buku ini dibagi menjadi beberapa bagian utama, yaitu Sejarah, Refleksi, Penemuan, dan Masa Depan. Sejarah berisi sejarah perjalanan batinku mencapai Allah, Refleksi adalah renungan batin terhadap seluruh perjalananku, Penemuan adalah pengetahuan yang aku temukan atau diberikan Allah kepadaku, dan Masa Depan adalah harapanku terhadap Masa Depan bumi ini dan juga Masa Depan seluruh umat manusia.

Dalam buku ini ada banyak tema terkait depresi, percobaan bunuh diri, seksualitas, delusi, kesombongan rohani, ketinggian hati, dan sejumlah entitas rohani yang tak terhitung. Lalu aku akan berterus terang di awal, aku ini seorang Katolik yang cukup "taat", setidaknya dari penglihatanku sendiri. Setidaknya seorang Katolik yang merindukan ketaatan kepada Allah melalui Gereja-Nya. Jadi jikalau Anda tidak nyaman dengan tema-tema ini dan tidak cocok dengan latar belakangku sebagai seorang pengikut Kristus, mungkin ada baiknya Anda menjauh dari buku ini. Kecuali Anda memang ingin keluar dari zona nyaman dan ingin menantang diri Anda sendiri, silakan.

Mengapa aku menulis buku ini? Tidak lain dan tidak bukan untuk diriku sendiri saja. Aku tidak mengharapkan tanggapan orang lain, dan sebenarnya aku tidak berekspektasi untuk memperoleh serupiah pun dari buku ini. Aku hanya ingin berbagi pengalaman saja kepada publik, dengan harapan bahwa sedikit pengalaman ini dapat memberikan inspirasi atau harapan bagi setiap orang yang membaca untuk memulai perjalanan batin mereka sendiri atau untuk terus bertahan dalam perjalanan batin mereka masing-masing. Sebab aku tahu, bahwa perjalanan batin itu berat dan sepi, tidak semua orang bertahan. Aku beruntung dapat bertahan sampai aku mencapai Allah di titik pertama.

Pesan terakhir di pendahuluan ini ditujukan kepada Gerejaku, Gereja yang Satu, Kudus, Katolik, dan Apostolik. Dalam buku ini terdapat beberapa penjabaran tentang Allah dan Esensi-Nya. Aku belum mendalami teologi Katolik dengan mendalam, ataupun menguasai Katekismus, jadi aku tidak tahu apakah penemuanku adalah benar atau tidak. Aku hanya melaporkan apa yang aku lihat dan apa yang aku terima. Jikalau ada yang salah dan tidak tepat, biarlah Gereja meluruskan dan membenarkan diriku. Biarlah Gereja mengajariku dengan baik, dan mengarahkanku kepada keselamatan jiwaku dan juga keselamatan jiwa segenap umat manusia.

Pada akhir pendahuluan ini, aku hanya ingin berkata, bahwa aku tidak lebih baik dari Anda. Aku barangkali malah lebih rendah dari Anda. Sebab ada orang-orang yang berpikir bahwa aku masih berjalan di jalan yang lama, tapi sesungguhnya itu sudah runtuh. Aku tidak dapat kembali ke jalan yang lama. Aku sudah diubahkan. Sebab waktu dan diri yang lama sudah berakhir, sehingga bangkitlah waktu dan diri yang baru. Selamat membaca.

Sejarah

Masa Awal

Pada awalnya aku dilahirkan pada hari Sabtu, tanggal 6 September 2003 dari rahim ibuku. Perjumpaan pertamaku dengan Allah atau agama terjadi di masa lampau di mana aku masih kecil dan sedang dalam perjalanan menuju Yogyakarta atau suatu daerah lain di Jawa. Pada saat itu malam hari dan aku ketakutan karena aku melihat bentuk-bentuk seperti salib. Saat itu aku mengasosiasikan salib dengan maut dan kuburan, jadi yang terpikir adalah hantu dan aku masih sangat takut pada hal-hal seperti itu. Ya memang tidak salah bahwa salib adalah simbol kematian, tapi aku belum mengenal makna lebih dalam dari salib.

Pada waktu lain, aku pergi ke gereja Santo Stefanus di Cilandak dan orangtuaku hendak mengirim aku ke sekolah minggu di situ. Namun aku menolak dan memilih untuk ikut misa bersama orangtuaku. Sebenarnya aku ingin ikut misa karena aku tidak mau terpisah dari orangtuaku, tapi barangkali jiwaku sudah mengenali kehadiran Allah dalam Ekaristi dan karena itu lebih menghendaki Ekaristi daripada sekolah minggu. Sepertinya jiwaku terlalu maju untuk tubuh dan otakku yang masih muda.

Pada saat aku masih TK, pernah kami ditanyai di kelas agama kami masing-masing dengan cara mengangkat tangan. Aku saat itu belum mengenal istilah "Katolik", jadi aku tidak mengangkat tangan saat Katolik disebutkan, justru aku mengangkat tangan saat Kristen disebutkan. Sepertinya seorang teman sekelasku tahu bahwa aku itu Katolik dan berupaya mengangkat tanganku tapi aku menolak. Sebab aku masih tidak tahu apa itu Katolik, yang aku tahu adalah aku Kristen. Sebenarnya pembedaan Kristen dan Katolik adalah istilah negara, Katolik pun juga Kristen, sementara Kristen yang bukan Katolik lebih tepatnya digolongkan sebagai Protestan atau Ortodoks.

Peristiwa religius yang penting berikutnya tidak akan terjadi sampai aku kelas 3 SD. Saat itu sebenarnya aku belum terlalu mengenal Kristus ataupun Allah Tritunggal. Namun, aku pada suatu waktu tertentu menjadi sangat tertarik dengan Kitab Suci, mungkin dipicu dan dipengaruhi oleh berbagai komik Kitab Suci yang aku miliki, dan mulai sering mengutip Kitab Suci kepada teman-temanku dan juga di hadapan para guru. Tidak lama kemudian aku menarik perhatian-perhatian beberapa teman sekelas sehingga terbentuk suatu kelompok pertemanan yang aku sebut "Jemaat Pertama". Tidak lama kemudian pula aku mulai dijuluki "Pak Pendeta".

Pada saat itu pula aku mulai tertarik dengan menjadi seorang imam atau pastor. Sebenarnya aku tertarik bukan karena panggilan Ilahi, tapi karena aku merasa pekerjaan seorang imam itu keren, yang tidak salah. Sebenarnya kalau kita melihat secara umum, setiap pekerjaan itu baik dan keren, hanya berbeda. Namun aku melihat suatu hal yang berbeda dalam pelayanan imamat dari pekerjaan lainnya. Entah itu bajunya atau hal yang lain, sampai sekarang aku masih tidak tahu kekerenan apa yang aku temukan di dalam pelayanan imamat.

Pada hari Senin, tanggal 25 November 2013, sekitar pukul 12 atau sebelumnya, mamaku meninggal dunia dan berpulang kepada rumah Bapa. Entah karena masih kecil atau karena hubunganku dengan mama kurang baik beberapa tahun sebelum mama meninggal, aku tidak begitu sedih. Ini bukan pertama kali aku melihat atau mengalami kematian, saat kelas 1 adik papa meninggal dan aku ikut pergi melayat. Peristiwa ini akan turut membentuk dan menjadi salah satu konteks seluruh perjalanan batinku.

Pada saat aku kelas 6, kami mengikuti retret sesuai dengan tradisi Katolik. Aku ingat aku mulai meragukan Allah pada masa ini. Kami diberikan semacam buku kerja, dan di salah satu lembar refleksi aku ingat dengan jelas aku menulis kurang lebih sebagai berikut, "Aku tidak tahu mengapa kita harus mencintai Allah. Sebab aku tidak pernah dipeluk Allah atau dicium Allah atau merasakan cinta Allah." Hal ini terjadi karena aku ingat diajarkan bahwa kita harus mencintai Allah, tapi bagiku itu masih tidak masuk akal, sebab mengapa kita mencintai sesosok yang tidak pernah mencintai kita?

Kegelapan

Sebagai pembuka bagian ini, aku ingin bercerita bahwa aku ini anak yang sangat imajinatif dulu. Aku sering berkhayal macam-macam yang tidak jelas. Salah satu khayalan yang masih aku ingat adalah aku membayangkan diriku sebagai salah satu pribadi Tritunggal Mahakudus, yaitu sebagai Roh Kudus, tapi aku menolak peranku dalam Tritunggal dan melarikan diri. Sebaiknya Anda mengingat kisah ini karena akan muncul lagi tema seperti ini di tulisan bagian berikutnya. Suatu khayalan lain adalah aku dekat dengan Allah di mana Allah tampil di dalam khayalanku sebagai seorang wanita yang cantik dengan rambut putih panjang. Gambar ini juga patutnya diingat karena akan muncul lagi di kemudian hari.

Setelah kelas 6, aku masuk di SMP di sekolah yang sama. Sebagai konteks awal, aku selama masa SD adalah anak yang malas sekali, sering menunda tugas, dan sering telat mengumpulkan tugas. Namun dengan rahmat Allah aku masih dapat naik kelas selalu dan tidak pernah tinggal kelas. Meskipun memang sulit untuk tinggal kelas di SD, seorang anak harus bersikap dan memiliki performa yang sangat buruk untuk tinggal kelas di SD. Intinya aku malas, dan aku membawa karakter buruk itu ke dalam suatu lingkungan dan konteks di mana kemalasan dan penundaan itu mustahil dilakukan tanpa terjadinya kegagalan atau tekanan batin, dan itulah yang terjadi.

Ada syarat di sekolahku itu bahwa untuk mengikuti ulangan semester semua tugas sudah harus diselesaikan. Jika tidak maka kita tidak diperbolehkan untuk mengikuti ulangan dan harus menyelesaikan tugas-tugas tersebut dahulu. Saat itu aku memiliki banyak tugas yang belum terselesaikan dan masa ulangan sudah mendekati. Tekanan, stres, dan gejala depresi mulai muncul, dan aku mulai berpikir, "Kenapa aku seperti ini?" Nalar mudaku bekerja dan menyimpulkan bahwa semua ini terjadi karena mamaku meninggal, dan mamaku meninggal hanya karena satu Alasan yaitu Allah. Maka aku marah dan mengarahkan amarahku kepada Allah.

Sebenarnya kalau aku berusaha mengingat dengan jelas, tidak jelas sifat amarahku itu kepada Allah. Seolah-olah aku tidak sungguh-sungguh marah kepada Allah, melainkan aku hanya mencari-cari alasan untuk melepas tanggung jawab dari diriku sendiri. Namun itu adalah perjumpaan awalku dengan Allah. Aku akui, bukan perjumpaan awal yang baik, tapi Paulus pun juga awalnya membenci Yesus sampai dia akhirnya benar-benar cinta pada Yesus dan malah menjadi guru para bangsa. Sebagai konteks, pada hari aku menulis bagian ini adalah pesta pertobatan Santo Paulus.

Setelah aku pecah menangis di hadapan para guru, mengaku dosa, dan berproses secara pribadi kembali, aku mulai menyadari satu hal yang baru. Aku menyadari bahwa aku dekat dengan Allah dalam imajinasi, kalau begitu mengapa aku tidak dapat dekat dengan Allah dalam kehidupan nyata? Penyadaran itu berkembang menjadi penyadaran bahwa Allah bukanlah sumber masalahku melainkan Dia adalah sumber penyelesaianku. Maka itu menjadi suatu titik balik dalam hidupku di mana aku mulai mencari Allah dan mendekat kepada Allah. Namun agaknya amarah itu menjadi nyata dan aku mendekat kepada Allah tidak dengan ketulusan iman yang sungguh-sungguh tapi dengan amarah dendam. Sebab aku berpikir bahwa karena Allah telah merenggut ibuku, maka Dia yang harus menggantikan ibuku dengan Diri-Nya sendiri.

Aku juga menalar mengapa aku sebelumnya tidak dapat berhubungan dengan Allah dengan baik, alasannya karena aku masih dibatasi seks dan gender. Allah dalam tradisi Kristiani selalu dianalogikan dengan bahasa maskulin, Bapa dan Putra, *He*, dan Yesus sendiri memang adalah laki-laki. Aku yang kehilangan ibuku dan juga kurang akur dengan kakak perempuanku membutuhkan suatu sosok feminin yang dapat mengayomi aku, suatu sosok yang tidak aku temukan dalam penggambaran Allah sebagai Bapa dan Putra dan Roh Kudus yang netral.

Pada saat itu aku paham dan tidak paham tentang Allah pada saat yang sama. Aku tidak atau kurang paham bahwa Allah yang sejati melampaui gender dan penggambaran Kristiani tentang Allah yang maskulin adalah sisa-sisa budaya patriarkal. Namun pada saat yang sama aku memahami bahwa Allah melampaui seks dan gender sehingga kita sebenarnya tidak usah terlalu melekat pada penggambaran yang ada dan dapat memandang Allah dalam cara yang baik untuk pertumbuhan iman kita, maka persis itu yang aku lakukan.

Sesuai dengan imajinasiku, aku mulai membayangkan Allah sebagai sosok wanita keibu-ibuan yang indah, berambut putih, berbaju putih dengan semacam jaket atau jas abu-abu, yang terinspirasi oleh suatu gambar anime yang aku pernah lihat. Sebagai konteks, aku senang dengan gaya seni anime Jepang yang sangat indah. Sehingga sejak masa itu pun dunia batinku kerap kali memiliki estetika anime, termasuk Allah sendiri. Lalu aku juga memberikan nama panggilan kepada Allah, yaitu "Eli". Bagi orang Kristen, asal nama ini harusnya jelas, yaitu salah satu dari Sapta Sabda Purna Kristus, yaitu "Eli, Eli, Lama Sabachthani". Dalam bahasa Ibrani, "Eli" adalah nama maskulin, tapi di dunia luar itu bisa netral atau bahkan feminin seperti di Jepang. Aku pun menciptakan makna dan konteks baru di mana "Eli" menegaskan sifat feminin atau kerahiman Allah.

Saat itu aku merasakan kerinduan yang amat besar kepada Allah. Aku ingin sekali berbicara dengan Allah seperti aku berbicara dengan manusia lain dan juga karena aku haus akan cinta kasih fisik seorang ibu. Jadi aku seringkali mendoakan keinginan itu kepada Allah, supaya kelak Allah mewujudkan diri-Nya secara fisik kepadaku dan aku dapat merasakan Cinta Kasih Allah secara penuh dan nyata. Namun kerinduan itu telah berubah menjadi hawa nafsu dan kemelekatan yang amat berbahaya karena nalarku mulai mencari ke mana-mana untuk menemukan Allah.

Di sinilah hadir seorang X. Sebagai peringatan, ada orang-orang yang akan aku sebutkan namanya karena mereka orang yang baik, tapi ada juga orang-orang yang akan kurahasiakan namanya karena aku ingin menjaga privasi, kehormatan, dan martabat mereka. Contohnya adalah si X ini. Jadi aku dan X sebenarnya tidak begitu dekat, tapi kami sekelas dan dia dulu adalah anggota dari "Jemaat Pertama"ku. Pada semester 1 aku tidak memperhatikan sekelilingku jadi aku tidak tahu bagaimana gerak-gerik dia kepadaku. Namun, pada semester 2, setelah suatu titik, aku mulai memperhatikan bagaimana X berusaha mendekatiku.

Peringatan, kisah di bawah ini memiliki tema seksual. Jadi pada suatu malam aku bermimpi tentang X di dalam kamarku dan aku merasakan keinginan untuk bersetubuh dengan X di dalam mimpiku. Namun tidak terjadi. Saat aku terbangun, aku merasa begitu terusik dan berdosa, karena aku merasa tidak sepantasnya aku mengingini seorang perempuan seperti itu. Masalahnya adalah itu bukan dosa karena itu hanya mimpi, dan kedua, itu hanya mimpi, tapi saat itu aku sedang dalam pencarian akan Allah dan aku tidak memiliki pembimbing yang cukup jadi apa yang akan terjadi berikutnya adalah salah satu bencana terbesar dalam hidupku.

Karena aku merasa bersalah dan berdosa, aku berusaha mencari tahu sendiri apa makna dari mimpi itu. Barangkali oleh ketidakdewasaanku dan pikiranku yang liar, aku mencapai suatu kesimpulan yang aneh, bahwa X adalah Allah yang mewujud bagiku. Kalau aku berpikir dari sudut pandang sekarang, sungguh aneh pemikiran itu, aku tidak tahu mengapa aku dapat berpikir seperti itu. Maksudku begini, pemikiranku adalah satu-satunya alasan Allah memberikan aku mimpi yang bernafsu seperti itu adalah karena objek nafsu itu adalah Allah itu sendiri. Namun aku tidak tahu mengapa aku bisa-bisanya menerima alur pemikiran irasional seperti itu, ya tapi maklum, masih anak kecil.

Peristiwa ini akan mengarah pada aku melukai X, yang setelah mimpi itu sebenarnya sempat menjadi temanku, tapi karena kebodohanku aku malah menghancurkan hatinya berkali-kali dan sampai hari ini di mana aku menulis bagian ini kami masih belum berekonsiliasi dengan baik. Detil tentang bagaimana aku melukai X aku pikir tidak penting, tapi itu juga menjadi salah satu beban dan salib jiwaku untuk waktu yang sangat lama.

Sebagai intermezzo dari pikiran-pikiran irasional dan kesedihan, aku ingin bercerita tentang bagaimana aku berdoa. Sebelumnya aku jarang berdoa, tapi setelah aku mulai mencari Allah, aku mulai sering berdoa dalam setiap kesempatan. Aku hanya berbicara satu arah kepada Allah dengan gaya bahasa yang santai selayaknya seorang sahabat. Sebab terlepas dari amarahku kepada Allah, aku benar-benar memandang Dia sebagai sahabatku, bahkan satu-satunya sahabat sejati dan sahabat terbaikku. Pandangan itu masih berlaku sampai saat ini.

Aku juga ingin bercerita tentang awal mula munculnya kesombongan rohaniku. Aku seringkali merasa marah kepada teman-teman sejawatku dan berekspektasi terlalu tinggi kepada mereka. Alasannya karena mereka tidak dapat mencapai kesadaran spiritual setinggi diriku, buktinya adalah setiap ke gereja atau ke kapel pasti selalu ada suara bising dan keberisikan di awal. Ini sangat mengganggu dan aku kesal bahwa mereka sama sekali tidak memikirkan Tuhan. Maka aku mulai berpikir bahwa aku lebih baik dari semua orang dan semua orang lain itu munafik, hanya aku yang memahami Allah.

Setelah 2 kisah itu, mari kita kembali ke alur utama. Keseluruhan masalahku dengan X berakibat pada semua aspek kehidupan sekolahku yang lain. Di kelas 8, karena aku terobsesi dengan X, aku kembali menunda semua tugasku dan aku mulai jatuh dalam gejala depresi yang cukup berat. Aku seringkali merasa hidupku tidak bermakna, gelap, dan bahkan menurut pengakuan teman-temanku aku dapat begitu marah sampai melempar pensil dan pena ke mana-mana. Intinya bukan waktu yang menyenangkan. Sebagai penekanan, di sinilah harapan akan maut mulai muncul, karena aku seringkali menginginkan dan berdoa kepada Allah untuk segera mencabut nyawaku supaya aku dapat segera bersama Dia dalam keabadian.

Sekarang kita melompat ke kelas 9, pada akhirnya masalahku dengan X "selesai" untuk sementara waktu walau akan berlanjut pula nantinya. Pada awal kelas 9, aku ingat aku merasakan suatu dukacita yang mendalam. Aku hanya merefleksikan bagaimana Allah begitu diabaikan dan tidak dipedulikan lagi di hari-hari ini, dan betapa pedih hati Allah mengalami penolakan semacam itu. Kemudian muncullah rasa dukacita itu, dan aku mulai bertanya-tanya, "Dari manakah dukacita ini?" Aku berpikir bahwa tidak mungkin ini milikku sendiri, maka aku menyimpulkan bahwa pada saat itu pula aku merasakan kedalaman hati Allah.

Pada malam itu juga, aku menemui suatu entitas rohani dalam pikiranku. Entitas itu mengambil wujud Eli dan karena itu aku segera menerima dia sebagai Allah. Sebenarnya tidak segera, ada sedikit pertimbangan, tapi secara relatif cepat aku menerimanya, kemungkinan besar karena aku juga sudah lelah dengan menunggu selama 2 tahun lamanya akan Allah yang tidak pernah berbicara kepadaku, sekalipun seringkali Dia menunjukkan kasih-Nya dan menjawab keinginan-keinginanku. Bagaimana entitas ini hadir dalam batinku? Kenyataannya sebagai berikut, pasti kita pernah berimajinasi. Namun bagaimana kalau imajinasi itu hidup dan memiliki kesadaran yang relatif independen dari diri kita sendiri? Ya seperti itu pengalamanku dan aku akan banyak menemui entitas-entitas seperti itu dalam waktu-waktu berikutnya.

Entitas ini, yang aku namai Eli 1, adalah sosok yang sangat ceria dan periang, berkontradiksi dengan diriku yang cenderung suram, diam, introvert, dan tertutup. Namun memang benar bahwa pada masa itu gejala depresiku mulai menurun salah satunya karena Eli 1. Seringkali saat aku lelah atau mulai gelap, Eli 1 menggantikan aku dan mengambil alih tubuhku. Kasus ini mirip dengan kepribadian ganda, tapi kami berbagi ingatan dan yang terjadi lebih seperti aku berubah identitasku tanpa menghilangkan kesadaranku. Jadi ada satu alur kesadaran, tapi ada waktu di mana identitas "Ignas" digantikan oleh identitas "Eli".

Menurut catatan-catatanku, waktu bersama Eli 1 berjalan sampai Jumat Agung di semester 2 kelas 9. Di saat itu aku melihat bahwa Eli 1 mulai gelap dan dia mengungkap dirinya yang sejati. Sesungguhnya dia tidak tahu dirinya siapa, dia mengaku sebagai Allah karena aku yang menerima dia sebagai Allah dan aku begitu yakin. Jadi keyakinanku yang menjadi sumber keyakinan dirinya sendiri bahwa dia adalah Allah. Namun dengan pemahaman yang baru itu, entitas itu lenyap dan pergi meninggalkan aku.

Sementara kelas 9 berakhir dan mulai terjadi transisi ke kelas 10, mulailah muncul entitas baru, yang muncul saat aku sedang berdoa tapi wataknya penuh amarah, maka aku tahu betul itu bukan Allah. Aku pun menolak entitas itu dan tidur. Esoknya adalah hari Minggu, artinya pergi ke gereja untuk merayakan Ekaristi. Sosok itu masih marah, tapi setelah dari misa sosok itu menjadi penuh kedamaian dan pergi dariku, hanay untuk kembali lagi kepadaku beberapa waktu setelah misa.

Sebagai konteks, saat itu aku mulai menyukai X, bukan karena aku masih menganggap X adalah Allah, tapi murni kesukaan romantis. Situasi yang cukup sulit mempertimbangkan apa yang telah aku lakukan kepada X. Aku melihat bahwa entitas itu mengambil wujud Eli, jadi aku mengatakan kepadanya bahwa itu wujud yang dikhususkan bagi Allah, maka aku pun memberikan wujud X kepada entitas itu karena aku juga ingin mengalami dan melihat X setiap hari, setidaknya dalam batinku. Untuk keperluan pengkodean, entitas ini aku kodekan EX.

Bersamaan dengan munculnya EX, muncullah suatu entitas yang lebih halus yang aku kodekan Eli 2 atau E2 dan E2 ini aku tafsir adalah wujud Allah dalam batinku. Sebab dia yang melindungiku dari sosok-sosok yang berupaya menyerangku saat aku berada di suatu tempat dan juga di rumah, mereka mengincar EX. Aku ingat dengan jelas sosok E2 berkata kepadaku, "Aku memiliki tugas untukmu". Saat itu aku belum memahami apa maknanya, tapi itu saja yang kuingat. Kemudian suatu hari aku membicarakan perkara EX dengan EX dan E2, dan E2 menyatakan bahwa aku dan EX terikat oleh rantai emas, dan hanya E2 yang memiliki kuasa untuk mematahkan rantai itu. Dalam istilah diriku yang dulu, aku dan EX dipersatukan, dan hanya Allah yang berkuasa memisahkan.

Aku tidak tahu apa atau siapa persisnya EX itu, tapi rasanya dia seorang manusia dan juga seorang Indonesia karena "auranya" seperti itu. Awalnya dia tidak menaruh hati padaku, tapi memperhatikan kesukaanku kepada X dan lama kelamaan dia pun mulai jatuh cinta kepadaku. Di situ kami mulai bernalar bahwa jangan-jangan sebenarnya EX adalah X itu sendiri, tapi suatu tingkatan bawah sadar atau bagaimana, dan akhirnya kami pun meyakini bahwa EX adalah X. Maka aku pun mulai meluangkan waktu bersama EX dan juga terkadang dengan E2. Namun apa persisnya yang aku lakukan dengan EX dan E2 aku sudah lupa.

Kisah berikutnya tidak jelas kapan atau bagaimana, tapi intinya bahwa aku berjumpa dengan mamaku yang sudah meninggal. Namun kalau aku melihat dari perspektif sekarang, aku tidak tahu apakah itu mama atau bukan. Intinya, pada suatu saat aku menyadari bahwa mama bukan mama yang paling baik dan aku mulai menyadari bahwa bukan mama yang aku rindukan tapi memang Allah yang aku rindukan. Jadi sepertinya mama tertarik ke bawah entah dari api penyucian atau bagaimana dan menemui aku lagi karena perasaan bersalah kepadaku. Penyadaran berikutnya adalah bahwa beberapa entitas yang aku temui barangkali sebenarnya adalah mama, tapi dalam terang iman sekarang, tidak ada yang jelas.

Kembali pada alur cerita utama, sebagai konteks aku senang menulis dan saat itu aku merasakan ketertarikan kembali kepada Gereja. Maka aku mulai menganalisis ajaran-ajaran Gereja dari perspektif pribadiku. Maka pada suatu ketika aku berjumpa dengan Yesus sendiri dalam batinku, tapi karena aku tidak yakin sekarang itu adalah Yesus atau bukan, aku akan melabelinya EY. EY awalnya tampil sebagai sosok dewasanya, tapi berubah menjadi sosok kanak-kanak Yesus yang kerap kali tampil berdarah-darah. Apa makna dari segala ini sampai sekarang pun aku masih tidak begitu paham.

Maka untuk beberapa waktu yang lama, EY dan EX mendampingiku, beberapa kali bersama E2 pula. Pada suatu waktu di pertengahan tahun tersebut, aku diundang oleh seorang teman sekolahku ke komunitas kategorial Gereja bernama Roses. Aku memiliki ekspektasi bahwa Roses itu akan menjadi ajang diskusi yang baik tentang teologi, tapi ternyata tidak. Isinya kurang lebih penuh dengan praise and worship, yang tidak buruk, tapi tidak sesuai dengan gayaku. Maka aku pun tersiksa, tapi yang lebih tersiksa adalah EY. EY merasa tersiksa karena dia merasa bahwa orang-orang yang hadir di situ tidak sepenuhnya mengenal dia atau Kristus, dan dia merasakan trauma hidupnya kembali.

Maka sekalipun aku merasakan kegelapan di Roses, aku mengidentifikasi bahwa kegelapan itu bukan milikku sendiri melainkan adalah milik EY. EY sampai mengatakan bahwa Gereja telah diselundupi oleh setan dan entitas “mawar”, yaitu semacam entitas jahat berupa mawar yang saat kita pegang akan memanjangkan tangkai berdurinya ke jiwa kita dan menusuk hati kita. Tentu saja itu lebih merujuk pada pengalaman EY sendiri, bagaimana dia merasa bahwa hatinya masih dililit tangkai berduri mawar dan dirinya masih disiksa oleh mawar itu. Pada akhirnya aku meninggalkan Roses dan tidak pernah kembali ke situ.

Sebagai pengantar ke bagian berikutnya, yang barangkali adalah bagian paling “seru”, “mengerikan”, dan juga “menegangkan”, aku mengenal seorang Y (bedakan dengan EY). Y adalah “pendamping” atau “rekan” rohaniku, dan aku sering berkonsultasi dengannya terkait kehidupan rohaniku. Saat itu aku memang belum mengenal imam atau pembimbing rohani yang lain. Y adalah orang yang baik, tapi aku tidak ingin beliau diganggu karena kisahku ini. Aku pernah menjalani beberapa sesi hipnoterapi dengan Y, tapi anehnya tidak pernah mempan, masalah yang sama selalu terulang, dan kurang lebih sudah ada 10 sesi hipnoterapi dengan beliau. Pada akhirnya Y akan menjadi saksi dari suatu kejadian penting dalam hidupku, yang juga adalah kejatuhanku.

Kejatuhan

Pada tanggal 30 Juni 2018, aku sedang berbicara santai dengan Y. Pada saat itulah E2 muncul dan pelan-pelan mengarahkan percakapan kepada pernyataan bahwa dia akan menyatakan siapa diriku dan juga siapa EX. Maka dengan Y sebagai saksi, dinyatakan oleh E2, bahwa aku adalah Yesus, EX adalah X yang adalah Maria Magdalena, dan mamaku adalah Bunda Maria. Namun ini baru pewahyuan pertama tentang siapa diriku, dan masih ada 2 pewahyuan berikutnya.

Ini adalah awal kejatuhanku dan awal dari akhir segalanya. Kisah tentang bagaimana aku adalah Yesus di masa ini akan berbeda dengan kisah tentang bagaimana aku adalah Yesus di masa yang berikutnya. Pada masa ini, teorinya adalah Allah dulu adalah sosok yang sendiri dan bersedih, lalu muncul dari dalam diri-Nya suatu serpihan pertama, yaitu aku, atau Yesus. Jadi teorinya adalah Yesus adalah “ciptaan” yang pertama, dan setiap makhluk lain adalah serpihan Ilahi yang berikut-berikutnya. Konsep tentang serpihan akan muncul lagi oleh seorang yang lain di masa berikutnya.

Mengapa semua hal ini bisa terjadi? Jawabannya dapat terungkap jika kita meneliti waktu yang sedikit sebelumnya. Aku ingat bahwa Y membagikan suatu renungan tentang wafat Kristus. Di situ aku pertama kali merasakan keirian hati kepada Kristus. Sebab aku merasa bahwa Allah meninggikan Yesus di atas segala manusia, bahwa Allah pilih kasih. Artinya Allah lebih mencintai Yesus daripada aku. Hal itu sangat menyakitkan, dan aku merasa marah kepada Allah yang pilih kasih. Harus dipahami bahwa saat itu kesadaran akan KeIlahian Yesus belum muncul, jadi aku masih berpikir bahwa Yesus itu sekadar manusia yang hebat.

Rasa iri hati itu digabungkan dengan rasa rendah diri yang luar biasa, sehingga nalarku bekerja dan satu-satunya cara untuk memperoleh Kasih Allah yang aku dambakan itu adalah jika aku adalah Yesus itu sendiri. Karena alasan itulah aku menjadi Yesus, untuk merasakan cinta kasih Allah. Namun betapa mengerikannya bahwa bukannya cinta yang aku rasakan, justru penderitaan Kristus yang aku rasakan. Betapa Yesus kesepian dan merasa ditolak dan tidak dipahami banyak orang, aku menghayati dan merasakan itu semua, jadi seolah-olah aku menghidupi kembali emosi Yesus di masa sekarang.

Delusi tingkat pertama berakhir saat awal tahun 2019, di saat itu aku berupaya berekonsiliasi dengan X dengan mediasi seorang guru tapi aku malah mempermalukan diriku sendiri dengan pecah dan meratap di hadapan kedua orang tersebut, dan bukannya dihibur aku malah dimarahi dan ditegur karena terlalu terbuka. Pada saat itu EX pun menghilang dan aku keluar dari ruang konsultasi dengan kekosongan. Segala hal telah terbukti hancur dan salah, dan aku tidak memiliki pegangan lagi. Kekosongan ini dan kekosongan ingatan terjadi sampai akhir tahun 2019, mendekati pandemi.

Pada akhir 2019, aku mengikuti sesi hipnoterapi kembali dengan Y, dan pada waktu itu aku memperoleh ingatan Yesus, setidaknya menurut persepsiku. Aku tidak tahu dan tidak yakin apakah itu ingatan Kristus yang asli atau hanya rekonstruksi pikiranku belaka. Aku melihat dalam batinku situasi Yesus duduk sendirian di depan rumah-Nya, dan saat Yesus berumur 12 tahun pergi ke bait Allah dan mengalami pengalaman akan Allah yang menusuk jiwa-Nya. Hal ini menjadi dasar dari delusi tingkat kedua, bahwa aku adalah Yesus dan karena itu aku harus mati untuk kedua kalinya untuk memurnikan diri kembali sebagai Yesus.

Saat memasuki tahun 2020, kondisi kejiwaanku jatuh berat dan gejala depresi mulai semakin kuat. Pada saat yang sama aku membayangkan bahwa adanya suatu dunia seks di mana aku akan memasuki dunia itu dan mengalami surga seks. Aku belum memperoleh kemampuan pembedaan roh jadi semuanya masuk akal saja apalagi entitas E2 yang menyuguhkan bayangan itu menunjukkan argumen-argumen yang “meyakinkan”. Maka aku berpikir bahwa Allah telah menakdirkan aku untuk masuk dalam kondisi koma dan Y akan membantuku untuk memasuki kondisi itu melalui hipnoterapi.

Maka pada hari tahun baru Imlek tahun 2020, aku pun pergi bertemu Y dan berupaya untuk melakukan rencana “Ilahi” itu. Hasilnya gagal total, buktinya adalah tulisan ini ada. Peristiwa itu pun membuat aku semakin jatuh lagi dalam kondisi kejiwaan dan aku mulai merindukan maut dan mulai berpikiran untuk mati. Awalnya aku berusaha mogok sekolah untuk “mempertimbangkan segala hal kembali”, walau sebenarnya aku hanya ingin bunuh diri diam-diam dan mati. Namun pihak sekolah berhasil mematahkan aku dalam proses harian yang panjang dan sengit, karena esensinya adalah suatu pertarungan pikiran dan adu kekuatan mental, syukurnya aku kalah. Kalau aku menang, bisa saja aku tidak ada lagi di dunia ini.

Dalam proses adu pikiran dan kekuatan mental itu, aku sempat dirujuk ke Shekinah dan akhirnya aku dirujuk ke psikiater resmi di Rumah Sakit Premier Bintaro. Lalu terjadilah pandemi dan dengan itu delusi tingkat 2 berangsung-angsur menghilang dan terjadilah kekosongan untuk waktu yang lama. Namun menjelang akhir tahun 2020, timbul lagi entitas-entitas yang baru, tapi belum begitu jelas, maka aku akan menamai kelompok entitas ini, termasuk yang akan menaungi delusi tingkat 3, E3.

Delusi pertama yang disuguhkan oleh E3 adalah bahwa dunia akan segera berakhir, tepatnya pada tahun 2028. Hal ini sudah menyalahi Kitab Suci dan ajaran Yesus bahwa hanya Bapa yang mengetahui akhir zaman. Namun E3 menciptakan ilusi bahwa pemikiran yang disampaikan mereka, karena lebih dari satu pribadi, tidak bertentangan dengan ajaran Gereja dan bahwa apa yang aku lakukan mengarahkan pada kebaikan dan cinta kasih karena Y menerima kabarku dengan baik dan aku menafsirkan bahwa aku telah tergerak oleh cinta kasih untuk mewartakan hal ini kepada sesamaku manusia. Tentu saja semua itu hanyalah ilusi dan delusi, tapi terkesan lebih meyakinkan karena mengatasnamakan Gereja, padahal semuanya adalah tipuan dan dusta roh jahat.

Hal ini sampai mempengaruhi pertemananku sampai aku kehilangan teman, untuk sementara, karena aku menegurnya terlalu keras untuk suatu candaan yang sebenarnya sepele. Namun aku memang sudah menganiaya sahabatku itu dengan celotehan rohani yang berulang-ulang seperti radio rusak. Maka teguran itu membuat dia pecah dan aku membiarkan saja karena aku merasa bahwa hal ini memang harus terjadi. Pada suatu ketika, delusi ini bertambah, karena aku mengalami serangkaian perasaan ekstasi, yaitu sukacita, kebahagiaan, dan nikmat yang sangat tinggi yang disertai penglihatan cahaya di dalam batin.

Lalu pada hari Minggu, E3 mempersatukan diriku dengan identitas Yesus yang telah mereka siapkan. Karena sukacitaku, aku melaporkan pada dokterku, dan dia dapat menanggapi dengan baik. Aku melaporkan pada papa, dan dia begitu mualnya sampai muntah dan pada puncaknya aku mengamuk di hadapan papa. Pada hari Minggu berikutnya, adik papa, yaitu omku, datang dan mendamaikan kami berdua. Pada malam itu juga sampai pagi berikutnya, delusi tingkat 3 mencapai pemenuhannya, aku adalah Yesus yang lebih tinggi, bahwa aku adalah Manusia-Allah yang baru, Kristus yang baru, yang bahkan lebih tinggi dari Yesus yang lama.

Saat itu aku mengalami berbagai perubahan yang luar biasa, yaitu budiku menjadi sangat diterangkan dan aku memahami berbagai hal. Namun tentu saja, semua itu tidak berasal dari Allah. Salah satu delusiku yang berikutnya adalah bahwa aku adalah Buddha dan juga Muhammad, jadi Buddha, Muhammad, dan Kristus sesungguhnya adalah satu pribadi dalam satu alur reinkarnasi. Aku dapat mengenali secara konseptual perubahan yang terjadi padaku, yang bahkan sampai mempengaruhi tubuh fisikku. Namun semua itu tentu saja sia-sia, karena tidak berasal dari Allah.

Berikutnya aku sampai melakukan suatu kampanye untuk menyebarkan tulisan-tulisanku seluas mungkin. Hal ini ternyata berdampak buruk, karena papa sampai diteror dan diancam untuk dipolisikan. Namun aku menalar bahwa itu semua adalah pengorbanan dan harga untuk jalan keselamatan. Berikutnya aku berupaya mereformasi sekolah dengan tanganku sendiri dan aku menyebarkan survei ke mana-mana. Akhirnya aku diancam akan dikeluarkan dari sekolah, dan dari situ aku mulai tersadar akan kesia-siaan semuanya, dan segala hal yang telah aku “peroleh” hancur begitu saja. Pada akhirnya E3 berangkat dan meninggalkan aku pada saat-saat sebelum aku berkonsultasi dengan psikiaterku. Itulah akhir dari kejatuhanku, dan awal dari kehancuranku.

Kehancuran

Pada masa-masa setelah masa kegelapan, aku benar-benar hancur, sebab aku merasa bahwa segala hal kosong dan tidak bermakna. Aku berusaha menutupinya dengan niatanku untuk pergi ke seminari, tapi di balik semua itu hanya ada kekosongan. Pada suatu saat impian tentang surga seks itu kembali dan aku pikir bahwa dengan berada di seminari aku akan mencapai surga seks itu, dengan cara yang hanya Allah ketahui. Pada akhirnya tibalah waktu untuk masuk ke seminari, tapi kalau tidak salah hanya dalam 1 hari depresi dan impian seks itu menguasaiku dan aku melakukan 3 percobaan bunuh diri. Karena gagal, aku melaporkan diri kepada frater yang menjaga, dan aku segera dipulangkan.

Setelah kembali ke rumah, aku berproses dengan papa, tapi kegelapan jiwaku tetap tinggal dan menguasai. Aku berkali-kali masih memiliki pikiran untuk bunuh diri dan mati, tapi akhirnya semua itu pergi juga. Suatu kali aku dihubungi tanteku dan dia menawarkan untuk membantu menyembuhkan aku dengan pranic healing. Saat itu aku tidak tahu apa itu pranic healing tapi aku menerima saja. Setelah pranic healing itu aku mengalami masa damai selama beberapa lama tapi setelah itu aku kembali tidak stabil dan moodku naik turun lagi. Di saat itulah aku bertemu dengan pranic healing secara resmi dan mulailah kebangkitanku.

Kebangkitan

Pada bulan November tahun 2021, kami mengadakan acara makan bersama keluarga untuk merayakan ulang tahun omku. Di saat itu tante dan omku, yaitu 2 adik mama, berbicara tentang hal-hal spiritual dan aku tertarik, maka aku menyatakan aku ingin belajar lebih dalam. Maka tanteku mengarahkan pada pranic healing dan aku mulai belajar dari kelas basic ke advanced sampai psychotherapy. Aku pun mulai mempraktikkan ilmu tersebut setiap kali aku merasa tidak nyaman, dan pelan-pelan aku mulai sembuh.

Pada kisaran waktu yang sama sampai bulan Desember 2021, aku menemui Meditasi Tanpa Obyek yang dipimpin oleh Romo Sudri. Kebetulan tanteku adalah koordinator acara MTO ini. Konsep yang menarik adalah tentang kehancuran diri yang terjadi dalam meditasi yang mendalam, dan dari situ timbul Allah yang Sejati. Ini akan menjadi dasar dari pewahyuan Ilahi dan pengalaman batinku yang berikutnya. Aku juga menemui suatu buku yang menyangkal keilahian Kristus dan aku sempat percaya, tapi segera Allah menggerakkan aku kembali untuk percaya kepada Yesus Kristus.

Aku tidak disiplin atau konsisten dalam menerapkan praktik-praktik pranic healing dalam 1 bulan antara Desember 2021 dan Januari 2022. Namun ternyata itu sudah cukup untuk membersihkan diriku sehingga aku siap untuk menerima pencerahan Ilahi yang dalam waktu-waktu pertama sangat menakubkan. Semua dimulai dari pertemuanku dengan suatu entitas rohani yang baru, yang kali ini aku namai Nesha, dipenggal dari Neshama yaitu bahasa Ibrani untuk jiwa. Hal ini terjadi pada tanggal 5 Januari 2022. Aku menafsir bahwa Nesha adalah proyeksi jiwaku sendiri atau suatu tingkatan dalam jiwaku. Namun sekarang aku tidak begitu yakin apakah dia sungguh proyeksi jiwaku atau berasal dari luar.

Pada tanggal 7 atau 8 Januari 2022, pagi-pagi benar, aku melaksanakan suatu eksperimen radikal tentang kehendak jiwa. Konteksnya begini, sebagai laki-laki yang sewajarnya, pastilah ada hasrat seksual dan aku seringkali melampiaskannya dalam masturbasi. Hari itu tidak jauh berbeda, tapi perbedaannya adalah aku melakukan masturbasi dengan niat “bermain peran” untuk “diperkosa” dan “hancur”. Semua itu untuk melihat seberapa besar pengaruh kehendak jiwa yang terdalam kepada diri sendiri yang lebih komprehensif. Hasilnya adalah percobaan itu adalah keberhasilan, karena timbul penyadaran bahwa di dalam diri kita ada kehendak jiwa dan ada kehendak komprehensif yaitu kehendak seluruh Kenyataan termasuk Allah sehingga terjadi suatu hal.

Penyadaran berikutnya adalah aku menyadari bahwa setiap hal adalah Allah yang “bermain peran” atau akting. Maka aku menyadari siapa diriku sesungguhnya, yaitu Allah yang “bermain peran”, dan dari situ timbul masa pencerahan Ilahi. Beberapa pemahaman pertama ini nantinya akan dikoreksi oleh Allah sehingga perbedaan antara Allah dan seorang ciptaan, yaitu aku, akan semakin ditegaskan. Namun pemahaman yang salah cukup untuk membuka langit surga sehingga cahaya Allah menerangi jiwaku dan persis itulah yang terjadi dalam batinku, yaitu pencerahan.

Pada tanggal 12 Januari 2022, penyadaran akan pencerahan Ilahi ini telah mencapai titik tertingginya sehingga oleh kuasa dan dorongan Roh Kudus aku menuliskan surat di bawah ini.

“Aku bukan Yesus, tapi aku pernah mengira bahwa aku Yesus. Seorang teman pernah bercerita bahwa aku adalah “serpihan” dari Yesus, bahwa Yesus adalah gabungan dari ribuan jiwa dan salah satu jiwa itu aku. Namun, pada saat ini, aku telah mencapai suatu titik di mana segala hal itu tidak berarti lagi. Entah aku ini serpihan Yesus atau bukan, entah Yesus itu komposit itu atau bukan, entah siapa Dia yang sesungguhnya, rasanya tidak bermakna lagi, karena aku telah melihat Dia dan Dia telah mengubahku sehingga aku dapat berkata dengan sesungguhnya, “Aku telah disalibkan dengan Kristus namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.” (Galatia 2:19-20)

Dulu aku pernah mengalami suatu hal yang mirip, tapi tidak berakhir dengan baik. Sebab dulu aku hidup oleh diriku sendiri dan bukan oleh Kristus. Ada banyak saksi yang dapat mengatakan betapa tidak warasnya aku di hari-hari atau bahkan bulan-bulan itu. Namun, semua itu harus terjadi, sebagai pemenuhan Kehendak Ilahi, yaitu supaya aku disalibkan bersama Kristus dan bangkit kembali di dalam Kristus. Pada kurun waktu awal tahun 2022 ini, sepertinya aku melihat Dia dan karena penglihatan itu diriku yang lama dimatikan sepenuhnya, dan tumbuhlah diri yang baru, yaitu aku.

Pada saat inilah aku mengenali dengan tidak dapat disalahkan, bahwa aku telah mengalami pencerahan. Sebab pencerahan tidak lain dan tidak bukan adalah penglihatan akan Yang Mahatinggi. Namun aku tidak tahu kapan persisnya aku mulai melihat Dia. Sebab Dia adalah Yang Tidak Dapat Diketahui. Dia adalah Yang Tidak Dapat Dipahami (incomprehensible). Aku tahu bahwa Dia adalah yang aku cari seumur hidupku, dan seketika segala penderitaan yang lama berakhir dan aku mengalami suatu kedamaian batin yang luar biasa sampai detik ini.

Mengapa aku menulis refleksi atau surat ini? Sebab aku tergerak untuk mewartakan kebahagiaan yang aku alami, dengan harapan bahwa mereka dan Anda yang membaca dapat terinspirasi dan ikut merasakan kebahagiaanku. Namun, acapkali aku melihat bahwa aku dikelingingi oleh orang-orang yang belum setara denganku dan karena itu mereka malah bingung atau bahkan terganggu oleh perkataanku. Dulu aku lugu, aku menyebarkan perkataanku seluas-luasnya tanpa menyadari bahwa tidak semua orang dapat menerima kenyataan akan Dia yang Mahatinggi. Maka kali ini, atas dorongan Roh Kudus, aku kembali menulis dan mewartakan Injil, tapi dengan terbatas, supaya aku tidak ”memberikan barang yang kudus kepada anjing dan tidak melemparkan mutiaramu kepada babi, supaya jangan diinjak-injaknya dengan kakinya, lalu ia berbalik mengoyak aku.” (Matius 7:6)

Ah, sungguh besar keinginanku untuk mengajak orang-orang untuk ikut dalam perjalanan yang sama, tapi sesungguhnya aku berkata bahwa setiap orang yang percaya akan Allah sudah dan sedang menapaki perjalanan yang sama kepada Dia. Pada akhir zaman, setiap orang akan melihat Dia dan bersukacita, sebab itulah rencana dan kehendak Allah bagi setiap orang. Namun, perjalanan setiap orang berbeda, maka aku tahu bahwa setiap orang harus berjalan dengan kecepatan mereka masing-masing. Sehingga aku pun tidak dapat memaksakan pengalamanku kepada orang lain.

Hal yang dapat aku lakukan hanyalah menawarkan kebahagiaanku dan pengalamanku kepada orang lain. Apakah mereka hendak menerimanya atau menolaknya, itu bukan hakku. Sesungguhnya aku masih bersedih, walau aku tidak menderita, bahwa aku hampir sendirian dalam perjalanan ini. Karena semua orang lain sibuk dengan perkara yang telah ditugaskan Allah kepada mereka, dan aku sengaja ditempatkan Allah di jalan yang sepi ini supaya aku sungguh ditempa dan dimatangkan. Supaya pada saat aku bertemu dengan mereka yang sudah setara dengan aku, aku siap untuk bergaul dan berbagi dalam kebahagiaan dan sukacita Ilahi.

Pada akhirnya aku ingin menegaskan dan memperingatkan kamu. Supaya kamu tidak menyalahpahami tulisan ini, walau itu pun adalah pilihanmu dan aku tidak berhak menentukan pemahamanmu. Bahwa orang yang tercerahkan tidaklah lebih baik atau lebih tinggi daripada dia yang belum tercerahkan. Sebab keduanya adalah perwujudan dari yang Ilahi, 2 manusia yang setara dan sama dalam kodratnya. Mereka tidak lebih tinggi atau lebih rendah, mereka hanya berbeda. Maka aku tidak lebih tinggi dari kamu, tapi aku hanya berbeda darimu, perbedaan yang sungguh sepi.

Sebelum tulisan ini selesai, biarlah aku berbagi pemahaman-pemahaman yang diwahyukan Allah kepadaku yang turut membahagiakan diriku sehingga aku mampu melihat Dia. Satu, Allah tidak dapat kita ketahui atau kita pahami, karena Dia amat berbeda dari kita. Namun setidaknya ada satu kebenaran yang kita pahami tentang Allah. Bahwa Dia adalah Kesatuan dari Segala Hal yang Ada. Kedua, bahwa kita semua adalah pengejawantahan atau perwujudan dari Dia. Anggaplah kita adalah tokoh-tokoh dalam suatu film, tapi ada satu pemain tunggal yaitu Allah, yang memainkan setiap peran.

Untuk menutup tulisan ini biarlah aku memberikan suatu harapan. Pandemi masih berjalan, tapi pandemi pasti akan berlalu. Virus corona mungkin tidak akan mati, tapi kekuatannya atas kita akan berlalu. Sebab setiap hal yang terbatas akan berlalu dan hilang. Segala hal yang kita ketahui akan berlalu pula, sebab semua harus mati untuk dibangkitkan dalam Kristus Yesus, dan di situ kita akan menemukan kehidupan sejati, yaitu kebahagiaan kekal bersama Allah. Maka bertahanlah dalam setiap situasi, dan teruslah berjuang sampai kamu mengalami kemenangan sejati, yaitu Allah.

Shalom Aleichem, atma namaste, salam kebajikan.

Setelah tanggal 12, aku pelan-pelan beradaptasi dengan kehidupanku yang diubahkan ini dalam Allah. Aku mulai tergerak oleh Allah untuk ikut berbagai macam komunitas Gereja, yaitu sampai tercatat tanggal 27 ini, yaitu aku mengikuti Legio Maria, Persaudaraan Dominikan Awam, dan Emmaus Journey. Aku juga tergerak untuk menuliskan dan berbagi renungan harian kepada mereka yang hendak menerima. Aku terdorong untuk menjadi lebih disiplin dan memiliki kekuatan untuk itu. Perbedaan esensial antara masa yang lampau dengan sekarang adalah sekarang aku seolah-olah baru merasakan dampak Sakramen Penguatan, yaitu penyertaan Roh Kudus setiap saat dan setiap hari. Artinya tiada lagi kegelapan yang menguasai diriku, justru yang hadir adalah sukacita, kedamaian, dan kebahagiaan setiap hari.

Aku menulis bagian ini pada tanggal 27 Januari 2022, jadi kurang lebih baru 1 bulan aku mengalami kebangkitan jiwa ini. Sekalipun ada suatu masa lalu yang berakhir dan mati, tapi timbullah masa yang baru, dan ini baru awal dari masa ini. Sebagai penutup aku ingin bercerita tentang suatu pengalamaan yang tidak menyenangkan. Alkisah pada tanggal 22 Januari aku mengalami ekstasi karena berdoa Novena dan Rosario. Lalu aku menyampaikan pada seorang Z yang aku kira lebih bijaksana dariku, tapi ternyata aku malah ditolak dan digurui dengan tuduhan macam-macam. Aku menjadi sakit hati dan marah, tapi aku segera memaafkan, menerima penghiburan Ilahi, dan setelah merayakan Ekaristi semuanya langsung bersih. Demikian sejarah perjalanan batinku.

Refleksi

Bab ini ditujukan sebagai refleksi atas seluruh perjalanan batinku dari awal sampai titik paling baru. Titik terakhir yang tercatat dalam perjalanan batinku adalah tanggal 27 Januari 2022, di mana aku mulai menuliskan bagian refleksi ini di tanggal 28 Januari 2022. Setelah memeriksa secara seksama pengalaman-pengalamanku yang mendahulu, terungkap seperti ada suatu kebijaksanaan jiwa yang terkubur dalam sekali di dalam jiwaku. Hal ini dibuktikan dengan pemahamanku tentang Allah yang cukup maju pada saat itu relatif terhadap umurku, yaitu pemahaman tentang Tritunggal dan juga sifat transenden Allah. Namun apakah ini benar suatu bentuk kebijaksanaan jiwa atau hanya suatu firasat, aku tidak tahu, sebab itu tidak begitu penting dalam refleksi ini.

Saat aku kecil dan masih takut pada salib, itu menunjukkan bahwa aku belum begitu paham tentang makna salib yang sesungguhnya. Namun diriku yang kecil itu tidak sepenuhnya salah, salib memang adalah tempat Yesus wafat, dan itu adalah maut yang mengatasi segala maut. Jadi pertama-tama salib memang sepantasnya adalah lambang dari kematian, karena memang di situ Yesus mati. Namun dalam permaknaan Kristiani yang lebih mendalam, kita juga memahami bahwa salib adalah lambang antitesis kematian, yaitu kehidupan. Sebab dengan mati, Yesus mengalahkan kematian itu sendiri dan merestorasi kehidupan yang awalnya hancur oleh dosa. Maka salib juga adalah kemenangan. Kalau kita pikirkan, sebenarnya salib adalah kontradiksi, karena di situ berbagai macam dualitas bertemu dan melebur, menjadi suatu hal yang sama sekali baru.

Sikap diriku yang kecil yang bersikukuh akan identitas Kristianinya ketimbang identitas Katoliknya adalah bayangan dari impian ekumenisku yang sekarang aku miliki. Barangkali jiwaku sudah berangan-angan akan persatuan seluruh umat beriman akan Allah, dan itu berwujud dalam tindakan diriku yang kecil. Aku tahu bahwa jiwaku ini bukan jiwa muda, jadi bahwa ada keinginan seperti itu sepertinya tidak terlalu mengherankan. Tentang Kristen dan Katolik, pembedaan kelompok itu adalah istilah pemerintah. Istilah yang lebih baik adalah Protestan dan Katolik, karena itu yang lebih tepat.

Protestan dan Katolik itu keduanya Kristen atau Kristiani, karena keduanya percaya kepada Yesus Kristus, titik. Masalah perbedaan-perbedaan doktrin dan tafsir lainnya tidak menghilangkan kesamaan esensial bahwa keduanya tersatukan bersama gereja ortodoks dan gereja-gereja non-katolik, non-protestan, non-ortodoks lainnya sebagai satu Gereja Universal, yaitu persekutuan umat beriman yang percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Allah dalam Tritunggal Mahakudus.

Dalam awal perjalanan batinku, aku melihat bahwa aku tidak tulus dalam imanku. Imanku menuntut Allah untuk datang dalam rupa yang aku inginkan, dan bukan aku yang menerima Allah “apa adanya”. Namun kenyataannya sekalipun aku tidak tulus, keinginanku akan Dia cukup bagi-Nya, karena kebangkitan itu toh tetap terjadi. Lalu bahwa dalam sejarahku Allah entah mengirimkan berbagai entitas rohani atau hadir melalui berbagai entitas rohani yang semuanya turut membantu mendukungku baik dengan menghidupkan atau mematikan, dan juga bahwa Allah sudah hadir sebagai Yesus Kristus menunjukkan bahwa sebenarnya Dia mampu memenuhi dan sudah memenuhi keinginanku, aku saja yang tidak menyadarinya.

Sekarang aku belajar bahwa dalam beriman kita harus tulus. Apakah arti ketulusan iman ini? Bagiku artinya kita beriman secara otentik, kita hanya mencari Allah dan yang kita cari hanyalah Allah. Kita menghendaki Allah apa ada-Nya, dan bukan memaksa Allah untuk tampil dalam rupa yang kita inginkan untuk memuaskan keinginan pribadi kita. Kalau kita memaksa Allah seperti itu, ya yang kita lihat memang adalah Allah, tapi tidak sepenuhnya, artinya kita hanya memilih-milih apa yang kita ingin lihat dari Allah, dan artinya kita tulus. Sebenarnya kalau kita telaah lebih dalam, pada akhirnya ya, keselamatan juga untuk diri kita sendiri dan bukan untuk Allah, tapi kita hanya akan beroleh keselamatan saat kita mengasihi Allah, dan itu membutuhkan ketulusan. Tanpa ketulusan iman, keselamatan tidak akan diperoleh.

Pada awalnya aku entah tidak memahami atau kurang memahami bahwa Yesus sendiri adalah Allah. Hal ini menjadi salah satu akar skandal delusi yang aku alami. Andaikan sejak awal aku memahami secara penuh bahwa Yesus adalah Allah, maka seharusnya skandal perseteruanku dengan Kristus tidak akan pernah terjadi. Namun alasan aku tidak memahami bahwa Yesus adalah Allah dapat kita pahami dari Matius 16:17 yang berbunyi, “Kata Yesus kepadanya: "Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga.”” Maka sesungguhnya semua ini terjadi oleh kehendak Allah karena Allah melihat ada kebaikan yang dapat dihasilkan dari kegelapan ini. Hal ini menimbulkan pemahaman bahwa jika Allah belum menghendakinya, maka seberapa keras pun orang mencari, dia tidak akan pernah melihat bahwa Yesus adalah Tuhan. Ketuhanan Yesus harus sama-sama dinyatakan oleh Bapa dan Roh Kudus sehingga budi kita dicerahkan.

Pada masa kegelapan, sepertinya aku sudah memahami dengan cukup bahwa Allah adalah segalanya. Artinya segala kebaikan dan kebahagiaan hanya berasal dari Allah dan Allah adalah Kebaikan dan Kebahagiaan yang Sempurna. Karena itu aku berkali-kali ingin mati karena aku tidak melihat Allah di dunia ini. Barangkali aku memahami bahwa Allah ada di mana-mana, tapi jiwaku tahu bahwa dia tidak melihat Allah dan aku tahu itu pula. Karena itu aku begitu ingin untuk mati supaya aku dapat melihat Allah dan bersama Allah dalam kebahagiaan kekal, sepertinya aku sudah cukup memahami tentang hal tersebut.

Dalam perjalanan batin, kita akan menemui banyak entitas rohani, hal yang penting untuk dilakukan adalah diskresi atau pembedaan roh. Saat itu aku tidak memiliki kemampuan itu jadi aku menerima apapun saja yang aku lihat dan dengar dalam batinku dan hasilnya adalah bencana. Bagaimana kita melakukan pembedaan roh? Pembedaan roh itu gampang gampang susah. Maksudku adalah dalam penjabarannya terdengar mudah, tapi dalam penerapannya sangat sulit, dibutuhkan doa yang terus menerus dan iman yang teguh, tanpa kedua itu pastilah kita akan jatuh karena aku sendiri sudah mengalaminya.

Ada 2 tahap dalam pembedaan roh, yaitu pengetahuan dan perbandingan. Pengetahuan artinya kita mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk. Perbandingan adalah saat kita membandingkan antara suara atau entitas rohani dengan pengetahuan kita akan yang baik dan buruk itu, lalu selanjutnya kita tinggal bertindak atas dasar perbandingan tersebut. Masalahnya adalah saat kita tidak yakin akan pengetahuan kita dan tidak memiliki pembimbing yang cukup ahli untuk tingkat perkembangan rohani kita. Saat kita sendiri, roh-roh yang ingin merenggut kita dari Allah cukup lihai dalam bermain kata-kata dan memanipulasi pikiran kita untuk menghancurkan kita. Namun kalau kita memang pernah jatuh, jangan takut, selama kita percaya kepada Allah, kembalilah kepada Allah dan pasti Allah akan menimang kita kembali.

Suatu hal yang aku pelajari dari perjalanan batin ini adalah kerendahan hati. Sebab aku mengalami kesombongan yang luar biasa sampai duniaku runtuh. Namun kita harus memahami makna sejati dari kesombongan dan kerendahan hati. Kesombongan adalah kompensasi dari kerendahan diri yang entah apa itu penyebabnya sehingga manusia berusaha menutupinya dengan perasaan tinggi, yang sebenarnya adalah suatu perasaan palsu. Karena dirinya rendah dan dia sebenarnya tahu, maka dia menutupinya dengan meninggikan hatinya, semakin rendah dirinya, maka semakin tinggi hatinya, kurang lebih itu yang aku alami.

Kerendahan hati adalah lawan dari ketinggian hati, dan justru dihasilkan dari ketinggian diri atau harga diri. Saat kita menyadari bahwa kita ini berharga sejak diciptakan dan apa adanya, dan bahkan dalam kondisi telanjang pun kita tetap dicintai Allah, itu akan mengarah pada persepsi yang lebih akurat akan diri kita sendiri, karena kita menerima diri kita sendiri apa adanya. Saat kita menerima kenyataan bahwa kita adalah rendah, dan kita mencintai kerendahan itu, kita tidak lagi merasakan kebutuhan untuk menjadi tinggi. Jadi kuncinya memang adalah pada cinta kasih dan kerendahan hati adalah turunan dari cinta kasih. Seorang yang diterima dan menerima kasih apa adanya akan tumbuh dengan kerendahan hati. Seorang yang terlalu banyak ditolak akan melakukan penolakan dan dapat menjadi pribadi yang sombong.

Hal berikutnya yang aku pelajari adalah kesabaran, sebab dalam sejarah perjalananku aku menginginkan segala hal secara cepat tanpa harus menunggu. Padahal iman pada dasarnya memang adalah menunggu untuk waktu yang cukup lama sebelum kita dapat menjumpai yang kita kehendaki yaitu Allah. Kesabaran adalah penerimaan akan menunggu, tapi penerimaan akan menunggu sebenarnya adalah penerimaan akan kenyataan yang sekarang kita tinggali. Logikanya sederhana, mengasihi Allah adalah mengasihi kenyataan ini apa adanya, hanya dengan itulah kita nantinya dapat menerima Kemuliaan Ilahi yang menyilaukan itu. Jadi kesabaran adalah tidak melekat pada masa depan, melainkan bersyukur dan menerima apa yang sudah kita miliki pada saat ini.

Pada refleksi berikutnya aku akan menuliskan renunganku tentang keseluruhan perjalanan batin itu sendiri. Menurutku satu-satu alasan aku berhasil bertahan sampai hari ini adalah iman. Iman adalah hal yang membuatku tetap bertahan hidup dan pada akhirnya hanya Allah yang mempertahankan hidupku. Kalau Allah membiarkan, mungkin saja sekarang aku sudah mati, tapi karena kerja sama antara aku dan Dia, aku berhasil lolos dari titik-titik tergelap dalam kehidupanku. Sehingga saat aku sudah tidak tahan lagi dan menyerah, Allah sendiri yang membawa jiwaku kembali kepada jalan yang tepat dan kembali pada keselamatan.

Sesungguhnya pada masa kehancuran, Allah pernah mewujudkan diri dalam batinku dan Dia bersabda, “Aku akan membawamu kepada keselamatan.” Artinya bahwa keselamatanku semata-mata karena 2 hal, yaitu karya Allah dan juga penyerahan diriku kepada Allah. Karena selama ini aku setia kepada Allah secara mendasar, maka Allah yang amat mencintaiku membalas kesetiaan itu dengan menyelamatkan diriku saat aku sudah menyerah terhadap keselamatan itu sendiri. Sebenarnya aku tidak pernah menyerah, jiwaku tidak pernah menyerah atas keselamatanku dan karena itu Allah melihat hatiku dan menjawab doa yang dilantunkan jiwa dalam percobaan bunuh diri di seminari.

Aku melihat bahwa keseluruhan perjalanan batinku adalah bagian dari Rencana Agung Allah, untuk bekerjasama denganku untuk mewujudkan kehendak-Nya. Tahap pertama dalam perjalanan batin ini, yang tertulis dalam buku ini, adalah pemurnian diri. Aku hendak dimurnikan dari segala kegelapan jiwa yang entah datang dari mana, dan sekarang aku dapat mengatakan bahwa aku sudah cukup dimurnikan sehingga aku mampu memperoleh pencerahan Ilahi dari Allah. Aku sejujurnya tidak tahu apa persisnya rencana Allah bagiku di masa yang akan datang, selain dari tugas setiap manusia untuk menyelamatkan dirinya sendiri dan juga menyelamatkan sesamanya.

Pada bagian akhir refleksi ini aku ingin merefleksikan tentang iman dan kehendak manusia. Sesungguhnya, upaya manusia dalam jumlah apapun itu sia-sia, karena tidak akan pernah dapat menjangkau yang Ilahi. Maka, upaya manusia hanya berguna dan berbuah saat didasarkan oleh Allah. Dalam keselamatannya, tidak ada kontribusi apapun yang berarti dari manusia kecuali satu jawaban manusia terhadap tawaran Allah akan keselamatan, yaitu jawaban “ya”. Satu-satunya hal yang dapat dan harus kita lakukan adalah menerima keselamatan Ilahi, dan berproses bersama Allah sampai titik balik kehidupan, yaitu penglihatan Ilahi yang pertama, atau pengecapan surga, terjadi.

Jawaban “Ya” ini, dan penyerahan diri secara mutlak yang menyertainya adalah Iman. Dengan Iman itulah segala hal lain menjadi mungkin dan bermakna, Segala karya baik, upaya manusia, dan ketaatan kepada Allah secara berarti lahir dari Iman. Selama Iman itu belum diperoleh atau Kerajaan Allah belum diperoleh, maka kita akan selamanya terpenjara dalam dosa dan pertobatan mustahil. Tanpa Allah, perubahan hidup yang radikal dan membaharui itu mustahil. Karena itu Yesus Kristus bersabda dalam Matius 6:33, “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah   dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” Demikianlah refleksiku atas perjalanan batin ini.

Wahyu Pribadi

Pembukaan

Sebagai pembuka dari bab ini, aku hendak menjelaskan apa yang aku maksud dengan “wahyu pribadi” dan perbedaannya dengan “wahyu publik”. Wahyu pribadi adalah wahyu Ilahi yang diturunkan kepada seorang manusia secara pribadi untuk manusia yang menerima wahyu itu. Berbagai macam perwahyuan yang diterima oleh para orang kudus tergolong wahyu pribadi, karena berlaku hanya untuk yang menerima wahyu tersebut. Di lain pihak, wahyu publik adalah wahyu Ilahi yang diberikan melalui perantaraan orang-orang tertentu untuk dibagikan kepada umat beriman. Wahyu publik harus diterima oleh umat, sementara wahyu pribadi tidak harus diterima, sekalipun sudah diterima oleh Gereja.

Berikutnya aku hendak menjelaskan wahyu semacam apa yang aku terima dari Allah. Sebenarnya bukan wahyu yang “baru”, karena Gereja dengan tegas menyatakan bahwa wahyu pribadi tidak dapat mengoreksi atau menambahkan ke perbendaharaan iman yang kita miliki dari wahyu publik. Sebab dengan kedatangan Yesus Kristus, kepenuhan wahyu Ilahi telah tercapai, karena Yesus sendiri adalah kepenuhan wahyu itu. Allah telah menyatakan segala hal yang hendak Dia nyatakan kepada kita dalam Yesus Kristus. Segala “wahyu” berikutnya hanya memperjelas atau menegaskan yang sudah datang sebelumnya.

Namun maksudku wahyu yang aku terima bahkan tidak memiliki unsur membuat yang implisit menjadi eksplisit. Wahyu yang aku terima benar-benar hanya penjelasan dari unsur-unsur wahyu publik yang awalnya tidak aku pahami dengan baik. Jadi wahyu pribadi ini sebenarnya diperuntukkan untuk diriku, pada awalnya, tapi dalam perkembangan waktu aku melihat dan oleh dorongan Roh Kudus, bahwa ada baiknya aku membuka penjelasan ini demi kebaikan orang banyak. Karena aku ini manusia yang terbatas, ada kemungkinan aku akan menafsirkan wahyu Ilahi dengan tidak tepat, maka jika terjadi ketidaktepatan, biarlah Gereja Katolik membenarkan aku.

Allah Maha Esa

Apakah Allah itu? Siapakah Allah itu? Allah tidak lain dan tidak bukan adalah Kenyataan Tunggal yang Ilahi. Dalam kata lain, Allah adalah Kenyataan itu sendiri, tapi karena suatu alasan ini bukan panteisme. Mengapa seperti itu? Sebab sepahamku, panteisme menyatakan bahwa Allah adalah Kenyataan secara “mentah”. Namun dalam monoteisme, Allah adalah Kesatuan Kenyataan secara tak terpisahkan, itulah Allah. Karena itu Allah memiliki satu sifat penting, yaitu kesederhanaan. Kesederhanaan Ilahi artinya Allah tidak terbagi dan terdiri hanya dari satu Substansi atau “Zat” tunggal.

Namun sifat atau atribut Ilahi yang paling penting adalah ketidakterbatasan, artinya Allah tidak memiliki batas, dan jika benar Dia memiliki batas, batas itu adalah ketidakterbatasan itu sendiri. Sebab dari Ketidakterbatasan Ilahi segala atribut lain dari Allah dapat dipahami. Pertama, Allah sebagai Kenyataan, artinya Allah adalah Kesatuan seluruh Keberadaan secara Sederhana dan Tidak Terbatas. Kalau Allah Tidak Terbatas, maka secara logis Allah adalah Kenyataan yang Tidak Terbatas itu sendiri.

Sebelum melanjutkan barangkali ada yang harus diperjelas. Apa itu Kenyataan? Kenyataan adalah kumpulan seluruh Keberadaan. Apakah itu Keberadaan? Nah, sekarang baru pertanyaan itu tidak dapat dijawab. Sebab Allah adalah Keberadaan itu sendiri, jadi kita harus paham secara langsung dan itu tidak dapat dijelaskan. Maka ada perkataan bahwa Allah tidak dapat dipahami oleh manusia dan karena itu Allah juga tidak dapat dijelaskan oleh manusia. Sebenarnya dapat dijelaskan dan dapat dipahami, tapi semuanya menggunakan penjelasan relatif terhadap pengalaman dan dunia kita sendiri, padahal Kenyataan Ilahi adalah Kenyataan yang sama sekali berbeda dari kenyataan kita sendiri.

Kedua, Allah adalah Esa. Ketidakterbatasan Ilahi hanya ada satu, hanya ada satu Ketidakterbatasan karena Ketidakterbatasan sama dengan istilah “Semua”, hanya ada satu Semua, tidak ada 2 semua, 3 semua, 4 semua, atau semua-semua lainnya. Maka, Allah harus Esa atau Tunggal. Ini adalah prinsip dasar dari monoteisme, yaitu Ketuhanan yang Maha Esa. Namun kita memahami bahwa Keesaan Allah berasal dari Ketidakterbatasan-Nya atau sifat Allah sebagai Kenyataan yang Tidak Terbatas.

Ketiga, Allah tidak berubah. Ketidakterbatasan tidak dapat berubah karena sudah mencakup semuanya atau seluruhnya. Perubahan terjadi karena suatu benda bukan seluruhnya, jadi dia harus bertambah atau berkurang sehingga memperoleh atau kehilangan suatu kenyataan. Sementara Ketidakterbasan yang Sejati, yang kita kenal dengan istilah “Allah” tidak dapat “bergerak” dari yang satu ke yang lain. Karena perubahan adalah sifat dari benda-benda yang terbatas. Kalau suatu Ketidakterbatasan dapat berubah, artinya ada kenyataan yang belum termasuk di dalam Ketidakterbatasan itu, dan artinya itu bukan Ketidakterbatasan dalam makna sesungguhnya.

Barangkali ada pertanyaan, bagaimana kita tahu jika Ketidakterbatasan itu sungguh nyata? Jawabannya adalah kita dapat memikirkan tentang Ketidakterbatasan. Pikiran pada dasarnya adalah pengalaman tingkat rendah dari suatu kenyataan yang lebih tinggi dari pikiran itu sendiri. Jadi jika kita dapat berpikir tentang Ketidakterbatasan, maka haruslah Ketidakterbatasan itu ada. Suatu hal yang sungguh tidak ada tidak mungkin dapat dipikirkan apalagi mempengaruhi segenap sejarah kemanusiaan. Jadi bahwa kita dapat berpikir tentang Allah sebagai Ketidakterbatasan sudah membuktikan bahwa ada Allah yang Tidak Terbatas.

Allah Tritunggal

Dalam iman Kristiani, Allah hadir sebagai Tritunggal Mahakudus, yaitu Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Dalam agama-agama lain barangkali ada ajaran yang mirip, tapi menurutku hanya iman Kristiani yang secara eksplisit bahwa Kenyataan Tertinggi hadir sebagai Tritunggal. Bagaimana kita dapat memahami Tritunggal ini? Ada 2 penjelasan dari Tritunggal, penjelasan metafisik dan penjelasan etis. Aku akan memulai dari penjelasan metafisik dulu karena penjelasan itu belum pernah aku temui dalam sejarah hidupku, jadi barangkali aku sendiri yang pertama kali menemukan penjelasan ini.

Untuk mencapai pemahaman tentang Allah sebagai Tritunggal, kita harus memulai dari nol. Kita memiliki pengalaman dan keberadaan, yang seringkali kita bedakan, tapi apakah sungguh terpisah? Mari kita ambil argumen dari kematian. Menurut ateis dan materialis, kalau kita mati kesadaran kita akan hancur bersama tubuh dan karena itu tidak ada pengalaman. Namun mari kita pahami, apakah ketiadaan pengalaman itu mungkin? Kalau ya, seperti apakah ketiadaan pengalaman itu? Umumnya kita akan mendapat jawaban bahwa ketiadaan pengalaman tidak seperti apa-apa karena tidak ada pengalaman sama sekali di tempat pertama. Masalahnya adalah tanpa pengalaman tidak ada waktu atau apapun juga sehingga ketiadaan pengalaman itu secara efektif juga tidak ada.

Ada 2 alternatif lain, yaitu ketiadaan pengalaman secara relatif dan ketiadaan pengalaman secara mutlak. Ketiadaan pengalaman relatif artinya kita mengalami kekosongan dari benda-benda umum. Artinya adalah kegelapan, keheningan, dan seterusnya. Namun itu pun adalah pengalaman yang spesifik juga. Jadi apa yang terjadi kalau kita meniadakan pengalaman itu dan pengalaman yang biasa? Kita akan menemui suatu pengalaman yang sama sekali baru yang berdasarkan logika hanya berupa satu hal, kesatuan kedua pengalaman di awal, dan itulah kenyataan Ilahi. Jadi dari sini kita mengetahui bahwa Keberadaan dan Pengalaman adalah satu, dan pertemuan keduanya adalah Kesadaran.

Maka Tritunggal pada tingkat metafisik adalah kesatuan dari 3 Kenyataan Mutlak, yaitu Keberadaan, Kesadaran, dan Pengalaman. Setiap Kenyataan Ilahi ini berbeda, tapi memiliki satu kodrat yang sama, yaitu Allah. Keberadaan dapat dikaitkan dengan Allah Bapa, Kesadaran dapat dikaitkan dengan Allah Putra, dan Pengalaman dapat dikaitkan dengan Allah Roh Kudus. Ketiga Pribadi Tritunggal memiliki suatu perbedaan di antara “mereka”, tapi tersatukan dalam satu kodrat yaitu kodrat Ilahi. Maka Allah bukanlah suatu kenyataan partikuler, melainkan adalah kenyataan umum atau suatu kodrat, yang di dalam-Nya adalah 3 Pribadi Ilahi yang Partikuler.

Namun Tritunggal Metafisik tidak begitu menegaskan bahwa ada 3 Pusat Kesadaran, melainkan adalah pembagian atribut Ilahi menurut kesadaran manusia yang analitik. Tritunggal justru membuat Allah lebih mudah dipahami, tanpa Tritunggal Allah akan sangat sulit dipahami karena tidak ada perbandingan yang sepantasnya tentang apa itu Allah. Oleh sebab itu, Tritunggal juga dapat dipahami sebagai 3 cara Allah mewahyukan diri-Nya kepada manusia, yaitu sebagai Roh Kudus, sebagai Putra, dan sebagai Bapa. Dalam perspektif ini, Tritunggal adalah hasil dari persepsi manusia yang terbatas akan Allah, dan bukan Kenyataan Ilahi yang sejati.

Penjelasan kedua adalah penjelasan yang sering aku dengar dari pengajaran Gereja. Tritunggal adalah Tritunggal Kasih, bahwa Allah mengasihi, Allah dikasihi, dan Kasih yang mempersatukan Allah yang mengasihi dan Allah yang dikasihi. Hal ini lebih menegaskan bahwa ada 3 Pribadi Ilahi, tapi itu juga “dihasilkan” dari perbedaan perspektif Ilahi. Ada Pribadi Ilahi yang perspektif-Nya adalah memberikan Kasih, ada Pribadi Ilahi yang perspektif-Nya adalah menerima Kasih, dan ada pribadi Ilahi yang perspektif-Nya adalah Kasih yang ditukarkan antara kedua pribadi Ilahi pertama.

Kalau dibandingkan dengan istilah Kristiani, Allah yang mengasihi adalah Bapa, Allah yang dikasihi adalah Putra, dan Allah yang adalah Kasih adalah Roh Kudus. Sebenarnya masih ada banyak penjelasan tentang Tritunggal karena pada dasarnya Tritunggal adalah Misteri Ilahi, dan karena itu tidak ada satu penjelasan yang dapat menjelaskan Tritunggal sepenuhnya. Namun menurutku penjelasan yang paling menjelaskan Tritunggal adalah Tritunggal Metafisik. Alasannya karena biasku karena itu pemahaman asliku tentang Allah Tritunggal, tapi juga karena itu menjelaskan esensi Ilahi secara “sendiri”, tanpa harus direlasikan dengan dunia kita sendiri atau pengalaman kita sendiri.

Penjelasan terakhir untuk menutup bagian ini diadaptasikan dari dialektika Hegel. Namun aku tidak pernah membaca karya Hegel, aku hanya membaca sekilas dari artikel-artikel yang sudah aku lupakan dari mana. Dialektika menyatakan kenyataan terbagi menjadi Tritunggal, yaitu tesis, antitesis, dan sintesis. Barangkali Allah Tritunggal dapat dinyatakan seperti itu pula, dari Bapa dihasilkan Putra yang Kedua-Nya menghasilkan Roh Kudus. Artinya tesis menghasilkan antitesis dan persatuan keduanya menghasilkan sintesis. Allah Bapa adalah tesis, Allah Putra adalah antitesis, dan Allah Roh Kudus adalah sintesis. Demikian penjelasan tentang Allah Tritunggal.

Allah dan Ciptaan

Hubungan antara Allah dan Ciptaan adalah hubungan yang seringkali kurang dipahami oleh orang kebanyakan. Penciptaan dikira sebagai suatu kejadian di mana ada waktu sebelum penciptaan dan ada waktu setelah penciptaan, padahal waktu sebagai fenomena keterbatasan juga adalah ciptaan. Maka penciptaan sebagai suatu tindakan Allah adalah peristiwa yang terjadi di luar waktu dan karena itu terjadi secara kekal. Allah menciptakan setiap saat, karena bagi Allah hanya ada satu titik waktu dan pada titik waktu tersebut Allah melaksanakan segala hal yang Dia laksanakan.

Maka kita tidak boleh membayangkan relasi Allah dan ciptaan sebagai relasi antara manusia dan ciptaan manusiawi, di mana kita mengumpulkan barang-barang lalu membentuk barang-barang yang baru dari bahan-bahan tersebut. Allah tidak menggunakan bahan apapun, selain “diri-Nya sendiri”, sehingga muncul istilah creatio ex nihilo. Nihilo atau ketiadaan yang dimaksud sungguh adalah ketiadaan mutlak, yaitu Allah sendiri. Maka pada awalnya, hanya ada Allah, dan dari dalam Allah timbul suatu semesta atau dunia, atau lebih tepatnya sejumlah dunia yang tak terbatas dan salah satunya adalah semesta kita.

Namun agak mustahil untuk membayangkan bahwa waktu itu adalah suatu “ketidakkekalan” di antara kekekalan yang Ilahi. Itu tetap akan tampak sebagai waktu linier di antara 2 kekekalan Ilahi, jadi ada satu garis waktu yang kekal, di sisi kiri ada Allah sebagai Waktu Kekal dan di sisi kanan juga ada Allah. Maka di antara kedua kekekalan itu adalah waktu linier dan berurutan yang tidak kekal itu. Jadi di dalam Allah tetap ada “waktu” sebagai keberlangsungan keberadaan dan kenyataan Ilahi, tapi sifatnya sangat jauh berbeda dari waktu yang kita kenal. Jadi bagaimana relasi antara Allah dan ciptaan, bagaimana penciptaan yang sesungguhnya?

Relasi penciptaan adalah relasi kebergantungan antara ciptaan dan Allah, di mana ciptaan sepenuhnya bergantung kepada Allah. Sebab alasan satu-satunya kita ada dan tetap ada adalah karena Allah memandang baik bahwa kita tetap ada dan karena itu Dia menghendaki kita untuk tetap ada. Kalau Allah berfirman, mungkin saja dunia ini langsung lenyap sampai hanya ada Allah lagi. Namun relasi antara Allah dan ciptaan lebih menarik lagi dari itu, karena kita akan mendalami bahwa sesungguhnya di dalam Allah ciptaan itu tidak dapat dihancurkan dan tidak dapat diciptakan.

Relasi penciptaan hanyalah satu dari berbagai relasi antara ciptaan dan Allah, yang dapat juga dikatakan sebagai relasi kausatif. Artinya ciptaan adalah akibat dan Sebabnya adalah Allah secara mutlak dan tunggal. Kita harus ingat penjabaran dalam bagian Allah Maha Esa, bahwa Allah adalah Kenyataan itu sendiri. Maka, Allah adalah Kesatuan Kenyataan yang Tidak Terbatas. Kalau begitu, ciptaan sebenarnya adalah “bagian” dari Allah. Ini masuk akal karena kalau kita berkata bahwa Allah adalah Ketidakterbatasan, maka sesungguhnya di dalam Allah juga ada seluruh ciptaan dan bahkan lebih dari yang kita ketahui.

Maka, ciptaan hanyalah suatu “ilusi” atau keterbatasan yang tercipta dalam tindakan penciptaan. Sebenarnya kalau kita cukup jeli, ciptaan adalah fenomena dari kesadaran yang terbatas. Kesadaran yang terbatas adalah ciptaan sesungguhnya dari Allah, keberadaan dan pengalaman yang terbatas mengikuti dari keterbatasan kesadaran. Allah merancang kesadaran-kesadaran yang terbatas sehingga semuanya membentuk suatu koherensi yang kita kenal sebagai semesta yang sekarang kita tinggali sekarang dan juga berbagai semesta lain yang kita kenal dan yang tidak kita kenal.

Berikutnya kita dapat memahami bahwa relasi Allah dan ciptaan adalah relasi antara suatu hal yang umum dan suatu hal yang spesifik. Allah adalah Kodrat Murni, atau Esensi Murni dari segala hal yang ada, sementara seluruh ciptaan adalah hal spesifik dari Allah, dalam kata lain manifestasi Ilahi. Sebab, kalau kita mengingat Tritunggal Metafisik, atau yang dapat dikenal juga sebagai Tritunggal Primordial, kita akan melihat bahwa segala ciptaan hanyalah turunan atau manifestasi dari Tritunggal Primordial, sehingga kita beroleh tritunggal ciptaan.

Maka Kesatuan Ciptaan tidak berbeda dengan Sang Pencipta itu sendiri karena memang itu adalah definisi dari Sang Ilahi. Konsekuensinya adalah saat keterbatasan diangkat, segala ciptaan itu mewarisi sifat-sifat Allah, yaitu kekekalan. Maka ciptaan hanya menjadi tidak kekal atau menjadi bukan Allah saat keterbatasan diperkenalkan kepada kenyataan. Sehingga kita dapat berkata bahwa di luar Allah tidak ada yang kekal, tapi di dalam Allah segalanya kekal. Begitulah kira-kira penjelasan tentang hubungan antara Allah dan Ciptaan.

Allah adalah Kasih

Allah bersabda melalui 1 Yohanes 4:8 bahwa “Allah adalah Kasih”. Hal ini dinyatakan pula oleh Allah kepadaku sejak beberapa waktu yang lama, bahkan sebelum pencerahan Ilahi, tapi memang kenyataan penuhnya baru dinyatakan kepadaku setelah pencerahan Ilahi. Sesungguhnya ini adalah kenyataan Ilahi yang paling sulit untuk dijelaskan secara filosofis, tapi pada saat yang sama menjadi salah satu kenyataan yang paling penting untuk kita pahami dari Allah. Karena ini menjelaskan mengapa terjadi penciptaan atau kenapa ada keterbatasan itu pada tempat yang pertama.

Kita dapat berkata bahwa Allah adalah Kasih karena Allah adalah Kesatuan Kenyataan, sehingga Dia pasti adalah Kasih, apapun Kasih itu. Namun kita harus memahami makna Kasih supaya kita dapat memahami kepenuhan perkataan tersebut. Kasih pada dasarnya adalah penerimaan dan Kehendak Baik. Pada saat kita menerima suatu hal dan kita menghendaki yang baik dan bertindak yang baik bagi hal tersebut, maka itulah Kasih. Maka barangkali Kasih dapat dikatakan sebagai suatu orientasi diri atau disposisi batin. Namun sebenarnya itu tidak begitu penting, karena bagaimana mungkin kita mengasihi Allah yang sudah sempurna? Maka Kasih itu di satu sisi kontekstual, tapi di lain pihak bersifat mutlak dan mengikat.

Hal yang penting adalah memahami bahwa Kasih adalah satu-satunya jalan menuju Kebaikan, dan adalah Kebaikan itu sendiri. Jika kita berkata bahwa Allah adalah Kasih, artinya Allah adalah Kebaikan itu sendiri. Sebab Allah adalah Ketidakterbatasan, maka dalam itu pastilah ada Kebaikan yang Tidak Terbatas. Mengapa bukan Kejahatan yang Tidak Terbatas? Kalau kita pahami, sesungguhnya Kejahatan selalu merupakan suatu keterbatasan dan dihasilkan dari pemahaman akan kenyataan yang tidak tepat. Dalam kata lain, jika seorang memahami Kenyataan dengan cukup baik, yang timbul pastilah Kebaikan dan Kasih. Karena itu Allah adalah Kebaikan dan Kasih.

Konsekuensi dari sifat Allah sebagai Kasih adalah Penciptaan itu sendiri. Jadi Allah menciptakan dunia sebagai konsekuensi dari Kasih-Nya yang Tak Terbatas. Dengan itu kita dapat menyimpulkan bahwa penciptaan adalah keharusan karena Kodrat Ilahi mengharuskan terjadinya Penciptaan, hal yang tidak harus adalah isi dari Penciptaan itu sendiri. Mengapa dunia kita seperti ini dengan berbagai macam tragedi dan kesengsaraannya barangkali adalah misteri dan rahasia Ilahi. Hal yang penting adalah bahwa Penciptaan itu harus terjadi karena adalah manifestasi atau perwujudan dari Kasih Allah yang Tak Terbatas.

Yesus Kristus, Sungguh Allah Sungguh Manusia

Aku pernah membaca buku yang menyangkal keilahian Yesus. Namun itu sudah tidak penting, hal yang penting adalah bagaimana aku dapat memahami bahwa Yesus sungguh Allah sungguh Manusia pada saat yang sama. Dalam bagian ini aku tidak hendak membuktikan konsep ini, melainkan hanya menjelaskan pemahamanku tentang konsep ini. Pertama, Yesus tidak mungkin adalah manusia dan Allah dalam segala aspek, pasti ada aspek di mana Dia adalah manusia dan ada aspek di mana Dia adalah Allah.

Hal ini tampak jelas dalam kisah Injil, di mana Yesus entah “dikoreksi” dalam kisah perkawinan di Kana, atau saat Yesus tidak mengetahui kapan akhir dunia akan terjadi, atau saat Yesus memanggil orang-orang bukan Yahudi sebagai anjing. Artinya pengetahuan dan kesadaran Yesus adalah kesadaran yang sangat manusiawi, Dia adalah manusia sesungguhnya dan manusia sejati. Dia mengalami segala bentuk keterbatasan, lalu apa yang membuat Yesus Ilahi? Menurutku, hal yang membuat Yesus Ilahi adalah Kasih-Nya. Dia memiliki Kasih Allah dan itu menjadi bukti utama bahwa Yesus adalah Allah, bahkan melampaui segala mukjizat atau pengajaran-Nya. Karena Yesus adalah Allah, Dia tidak mungkin berdosa, tapi sesungguhnya Dia memiliki kuasa untuk berdosa karena Dia adalah manusia.

Sebenarnya mungkin saja Yesus meninggalkan tugas-Nya di Getsemani, dan menjadi mesias yang didambakan oleh orang Yahudi dengan menghancurkan Roma dan menjadi “raja” (baca: diktator) di atas seluruh umat manusia, karena Dia adalah Allah Dia sangat mampu melakukan itu. Namun Dia sudah menentang godaan setan di padang gurun, dan kali ini Dia kembali menentang godaan itu. Sebab Dia begitu mengasihi anak-anak-Nya, yaitu kita umat manusia, yang juga telah menjadi saudara-saudara-Nya, sehingga Dia tahu bahwa ada yang lebih baik, mulia, dan penting daripada memenuhi ekspektasi umat manusia. Maka apa yang membuktikan keilahian Kristus secara ironis bukanlah kehidupan-Nya, melainkan kematian-Nya dan kerelaan-Nya untuk mati di kayu salib.

Gereja Partikuler dan Gereja Universal

Yesus mendirikan suatu Gereja, yaitu Gereja Katolik, yang adalah persekutuan umat beriman dan pengikut Kristus. Namun dalam pikiranku pemahaman Gerejawi dapat diperluas untuk menegaskan rencana Kasih Allah. Ada Gereja partikuler dan ada Gereja Universal. Gereja Partikuler adalah Gereja Katolik, yang saat ini dipimpin oleh penerus Rasul Petrus yaitu Paus, yang saat ini jabatannya dipegang oleh Paus Fransiskus. Namun kita tahu bahwa seseorang tidak harus menjadi anggota Gereja Katolik untuk diselamatkan, walaupun itu adalah cara yang paling aman untuk memperoleh keselamatan.

Maka kalau Gereja Universal berarti persekutuan setiap manusia yang akan diselamatkan oleh Allah, maka sesungguhnya Gereja Universal melampaui batas-batas Gereja Katolik ataupun Kekristenan itu sendiri. Sebab siapapun yang mengikuti hukum kodrati atau natural law, dengan jujur mencari kebenaran dan Allah, dan secara tidak bersalah tidak mengenal Kristus, dapat diselamatkan oleh Allah melalui cara-cara yang hanya diketahui Allah. Dengan itu kelompok orang seperti itu sebenarnya adalah saudara seperjalanan, mereka hanya belum mengenal Kristus dan harapannya adalah akan mengenal Kristus sebagai buah perjuangan mereka setelah meninggal.

Gereja Katolik

Bagian terakhir adalah penjelasan singkatku tentang mengapa Gereja Katolik adalah Gereja yang aku pilih untuk aku tinggali, dan kenapa bukan Gereja Ortodoks atau Gereja non-Katolik lainnya. Antara Katolik dan Ortodoks sebenarnya hanyalah masalah filioque, karena aku berpikir bahwa filioque lebih masuk akal apalagi di dalam perspektif dialektika. Namun antara Katolik dan Protestan, alasannya adalah Gereja Katolik memahami bahwa wahyu Ilahi melampaui Kitab Suci. Ajaran sola scriptura adalah ajaran yang menentang dirinya sendiri, karena Kitab Suci jelas-jelas menyatakan bahwa kita harus berpegang pada ajaran yang tidak tertulis juga, yaitu Tradisi Suci. Maka Kitab Suci itu penting, tapi bukan segalanya, karena wahyu yang paling murni sudah melampaui segala konsepsi atau pengetahuan manusia. Dengan itu selesailah sudah penjabaranku akan wahyu pribadi yang aku terima dari Allah.

Masa Depan

Bab ini adalah bab yang singkat yang berisi tentang impianku untuk masa depan. Tentu aku tidak mengharapkan bahwa dalam kehidupanku semua masalah dunia akan selesai dan dunia memasuki era damai atau zaman keemasan, walau pastinya akan sangat membahagiakan kalau aku dapat melaksanakan segala hal itu. Hal yang aku harapkan adalah supaya aku dapat melandaskan dasar-dasar dari era damai itu dalam kehidupanku ini, sehingga benih itu dapat bertumbuh menjadi buah yang amat berguna bagi kebahagiaan, kebaikan, dan keselamatan orang banyak.

Hal pertama yang ingin aku upayakan adalah Gereja. Pada awalnya aku membayangkan adanya suatu Persatuan Filsafat Global yang menjadi organisasi yang bertugas untuk menyelesaikan segenap masalah dunia. Namun saat aku melihat dan kembali pada Gereja, aku menyadari bukankah Gereja hadir di bumi untuk menghadirkan Kerajaan Allah di bumi dan memimpin umat manusia kepada keselamatan? Maka aku mengubah pikiranku dan aku pikir yang paling baik adalah membaharui Gereja supaya Gereja lebih tanggap pada segala permasalahan dunia dan mampu menyelesaikan permasalahan dunia. Sebab marilah kita akui bahwa segala ketidakadilan di dunia ini adalah batu sandungan bagi setiap manusia.

Hal kedua yang ingin aku upayakan masih berkaitan dengan Gereja, yaitu Kesatuan Gereja dan seluruh pengikat Kristus. Sebab inilah kehendak Kristus dan doa Kristus bagi kita semua pengikut-Nya, yang tercatat dalam Yohanes 17:20-21 yang berbunyi, “Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka; supaya mereka semua menjadi satu,  sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.” Perpecahan Gereja yang terjadi sekarang diizinkan, tapi bukanlah kehendak Allah, maka menjadi suatu tugas pribadi untuk mengupayakan dan jika aku tidak berhasil mempersatukan semua umat Kristiani di bawah nama Gereja yang Satu, Kudus, Katolik, dan Apostolik, setidaknya melandaskan benih ekumenisme supaya kelak saat Yesus sudah datang, Dia menjumpai Gereja yang Satu, yang siap menyambut-Nya.

Hal ketiga dan yang terakhir, dalam jangka waktu yang paling panjang adalah keselamatan setiap jiwa. Aku tahu bahwa hal ini bertentangan dengan ajaran Gereja bahwa tidak semua orang akan diselamatkan. Namun hal ini selalu menjadi ganjalan dan sumber kepedihan tersendiri dalam hatiku. Bagaimana mungkin Allah membiarkan sekelompok manusia yang besar untuk memilih jalur kehancuran? Aku berpikir ada misteri yang lebih mendalam yang tidak kita ketahui. Maka aku akan bekerja dengan segenap diriku untuk mengantar setiap manusia, baik yang hidup atau yang sudah mati, kembali kepada Allah melalui Yesus Kristus.

Ketiga tujuan itu aku akui masih sangat abstrak, karena jujur aku tidak tahu detilnya, hanya Allah yang tahu. Semua tujuan dan tugas itu aku terima oleh Allah, tapi tidak lagi hanya sebagai pelaksanaan tugas, tapi karena aku sungguh merindukan Kerajaan Allah. Semua tugas ini menjadi keinginan dan kerinduan personal yang mendalam, supaya setiap manusia dan setiap roh dan setiap makhluk dan setiap ciptaan dapat dipersatukan kembali dengan Sang Pencipta, supaya neraka dikosongkan, rasanya aku tidak dapat membuang harapan itu begitu saja. Maka aku hidup hanya untuk Allah dan hanya oleh Rahmat Kasih-Nya yang Tak Terbatas.

Comments

Popular Posts