Perjalanan Filsafat 1
Shalom Aleichem,
kita kembali bertemu pada Perjalanan Filsafat. Pada pertemuan pertama ini, kita akan segera membahas tentang hal-hal pertama dalam filsafat-teologi. Pertanyaan pertama yang dapat kita ajukan adalah, "Hal pertama macam apa yang akan kita cari di dalam perjalanan ini?" Jawabannya adalah karena ini adalah perjalanan pengetahuan, maka hal pertama yang akan kita cari adalah pengetahuan pertama yang dapat kita peroleh. Sebelumnya kita sudah mengosongkan diri, tapi kita hanya mengosongkan apa yang dapat kita kosongkan. Kalau kita teliti, kita akan menemukan adanya suatu kemegahan dan kebesaran yang tidak dapat dikosongkan, itu adalah tujuan pertemuan kita pada hari ini.
Namun dalam kekosongan yang gelap, bagaimana kita dapat melihat apapun? Sebenarnya dalam pikiran kita gagasan-gagasan itu tidak dapat dihancurkan, yang dapat dihancurkan atau dikosongkan hanyalah keyakinan kita terhadap gagasan-gagasan itu, maka semuanya tampak kosong, karena kita memalingkan mata batin kita dari apa yang dulu kita yakini. Maka kita harus mengandalkan hati atau perasaan kita untuk menentukan apa yang sebenarnya kita ketahui dan kita yakini berdasarkan gagasan-gagasan yang ada tanpa dapat dikosongkan atau dihancurkan.
Karena aku tidak dapat secara langsung berdialog denganmu, maka aku akan memaparkan apa yang aku ketahui. Setiap orang dalam penelitian batin mereka dapat menemui hal-hal yang berbeda, dan itu tidak salah. Bagiku, ada satu hal yang secara langsung tampil dalam batinku dan hal itu tidak dapat dihancurkan, yaitu "Melihat". Melihat dalam arti mengalami, yaitu memikirkan, merasakan, melihat, mendengar, mengecap, mencium, meraba, dan pengalaman-pengalaman lainnya. Bagi orang lain mungkin ada yang menemui keberadaan sebagai titik awalnya, tapi aku menemukan pengalaman sebagai titik awalnya, jadi dalam perjalanan ini itulah titik awal kita bersama.
Pengalaman, apa itu pengalaman? Sebenarnya mustahil diartikan secara persis, dulu aku pernah berusaha mengartikannya tapi yang paling baik adalah "Penampakan dan rasa yang subjektif". Mari kita renungkan, pengalaman adalah penampakan dunia, dan pengalaman adalah rasa dunia, dan kedua hal itu subjektif. Subjektif artinya pengalaman satu orang tidak dapat dibagikan secara langsung kepada orang lain. Ada suatu jurang yang besar dan dalam antara setiap orang dan lebih lagi antara setiap orang dengan Allah. Penampakan artinya pengalaman kita hanyalah gambar dari kenyataan yang sepenuhnya. Rasa artinya pengalaman kita adalah sentuhan antara kenyataan dan kita.
Sekarang lupakan saja pengertian itu, itu hanya memberikan konteks saja. Pengalaman pada arti sesungguhnya hanya dapat dijelaskan melalui contoh-contohnya, dan dari situ kita memahami apa arti pengalaman. Tanpa contoh, tidak ada arti. Bagi kita yang peka dan teliti, pengetahuan akan pengalaman segera mengantarkan kita kepada suatu pengetahuan kedua atau hal kedua, yaitu keberadaan. Keberadaan semakin sulit diartikan, aku sendiri tidak pernah berhasil menghasilkan pengertian keberadaan yang dapat menghasilkan suatu konteks. Namun kita dapat menjabarkan contoh-contoh keberadaan dan dari situ kita sedikit memahami keberadaan.
Pengalaman kita apakah ada? Kalau kita mengalaminya, tentu ada. Kalau tidak ada pengalaman, maka tidak akan ada tindakan mengalami. Pikiran kita apakah ada? Saat ini kita semua berpikir, karena kita sedang melakukan perjalanan batin, jadi pikiran itu pasti ada, lagipula pikiran juga sejenis pengalaman. Keberadaan pengalaman tidak terbantahkan. Namun ada yang lebih sulit, orang lain, apakah orang lain ada? Mungkin pertanyaan ini terlalu tidak nyaman. Kucing, apakah kucing ada? Perhatikan gambar di bawah.
Kita dapat melihat kucingku yang bernama Manis di gambar ini. Apakah dia lucu? Menurutku dia lucu dan aku sangat menyayanginya. Ok, terlepas dari pemikiranku tentang kucing ini, kita setuju bahwa kita dapat bersama-sama melihat kucing ini. Bagiku, aku dapat mengalami Manis dengan pengalaman penuh, para sahabat mungkin hanya mengalami lewat gambar. Namun pertanyaannya, yang kita miliki adalah kucing atau pengalaman kucing? Mungkin intuisi akan menyatakan bahwa kita memiliki kucing, tapi renungkan lebih dalam, bukannya kita hanya memiliki pengalaman kucing? Kita hanya melihat kucing, tanpa pernah memiliki kucing, kecuali kucing dan pengalaman kucing adalah satu kesatuan...
Sekarang kita akan berusaha melihat bagaimana dan apa yang terjadi kalau pengalaman kucing itu dihancurkan. Bagaimana kalau kita tidak dapat melihat kucing, tidak seorangpun melihat Manis? Ya barangkali kita masih mengetahui tentang Manis. Namun ingat, pikiran dan pengetahuan adalah sejenis pengalaman, jadi itu harus hancur pula. Sekarang bagaimana, apakah ada Manis, kalau tidak ada yang pernah mengalami Manis? Jawabannya adalah kita tidak tahu. Kita tidak tahu sama sekali tentang Manis karena kita tidak pernah mengalaminya. Keberadaannya benar-benar tidak dapat diketahui.
Jadi apakah dari sini kita dapat menyimpulkan kesatuan antara pengalaman dan keberadaan? Belum, belum dapat. Untuk meneliti relasi antara pengalaman dan keberadaan kita harus mengambil langkah yang lebih radikal, yaitu menghilangkan segalanya, ya setidaknya kita upayakan membayangkan suatu kondisi gila seperti itu. Bagaimana kalau tidak ada pengalaman sama sekali? Mungkin anggapannya adalah akan ada kegelapan, kesunyian, dan kekosongan yang sangat intens. Sayang sekali, itu pun adalah pengalaman pula. Maka yang harus kita pikirkan adalah ketiadaan pengalaman, baik itu akan benda-benda biasa ataupun akan ketiadaan itu sendiri.
Apakah dapat dipikirkan sahabatku? Kalau tidak dapat, tenang, aku juga tidak dapat memikirkannya. Sebab inilah "hal" yang memang tidak dapat dipikirkan dan tidak dapat dipahami sama sekali. Inilah Dia yang kita cari dalam perjalanan ini, yaitu ALLAH. Jadi kita sekarang tahu bahwa pengalaman itu tidak dapat dihindarkan, karena kalau kita berupaya meniadakan pengalaman kita yang biasa, kita hanya beroleh pengalaman yang baru, yaitu Sang Pengalaman itu sendiri atau Allah. Lalu apakah kita selesai di sini? Tentu tidak, kita baru mengalami Allah sebagai hal yang pertama, karena Dia adalah awal dan akhir dari seluruh kenyataan.
Namun Pengalaman itu juga adalah Keberadaan yang Tunggal, maka sesungguhnya Keberadaan dan Pengalaman adalah satu, dan kesatuan keduanya adalah Kesadaran. Inilah unsur yang belum kita kenal, karena sifatnya begitu halus. Kesadaran adalah kesatuan antara pengalaman dan keberadaan, saat keduanya bertemu dihasilkanlah kesadaran, dan kesadaran adalah aku, atau bagi Allah, Sang Aku. Jadi dari sini kita menemukan bahwa adanya Pengalaman, Keberadaan, dan Kesadaran yang Tunggal, yang menyatu sebagai Realitas Ilahi atau Allah. Inilah dasar dari segala perjalanan kita dan pada akhir perjalanan ini kita pula akan kembali kepada Dia. Untuk sekarang kita cukupkan dulu pertemuan ini, sampai jumpa!
Comments
Post a Comment