Perjalanan Filsafat 2

 Shalom Aleichem,

kita kembali bertemu dalam Perjalanan Filsafat. Kita sudah menemui Tritunggal Primordial, yaitu Keberadaan, Pengalaman, dan Kesadaran. Namun sebenarnya Kenyataan Ilahi ini masih suatu hipotesis dan belum ada bukti yang cukup. Jadi pada tulisan ini kita akan bertanya, apakah bukti bahwa Allah, Tritunggal Primordial itu, sungguh ada? Pada saat pertama kali aku menulis kalimat ini dan kalimat-kalimat sebelumnya, aku belum mengetahui alur pembuktiannya, tapi barangkali Allah sendiri akan menyatakan kepadaku bagaimana kita dapat membuktikan diri-Nya.

Allah mungkin ada, karena kita dapat membayangkan Dia setidaknya secara konseptual. Namun, sepertinya pembuktian keberadaan dan kenyataan Ilahi sesederhana menyadari bahwa segala hal ada, dan menyadari apa esensi Ilahi. Allah adalah Keberadaan, Pengalaman, dan Kesadaran yang tersatukan dalam satu esensi atau kenyataan Ilahi. Namun, apa itu isi dari Tritunggal ini? Ada 2 jawaban, pertama kita tidak tahu karena Allah itu sungguh adalah yang tidak dapat terjangkau, kedua adalah Allah adalah esensi yang mendasari segalanya. Maka pemahaman kita akan Allah mau tidak mau didasari pada pemahaman kita pada dunia nyata.

Kita tahu bahwa ada dunia nyata, karena sebelumnya telah dibuktikan bagaimana ada Tritunggal Primordial yang hadir di setiap benda. Jadi di setiap benda ada keberadaan, pengalaman, dan kesadaran. Suatu kucing bukan sekadar kucing, tapi dia juga mengalami dirinya sebagai kucing dan memiliki kesadaran sebagai seekor kucing. Hal yang sama juga berlaku untuk hal-hal yang tampak tidak hidup, seperti bintang, batu, dan planet bumi kita yang tercinta ini. Dunia nyata yang dapat kita amati ini hanya sebagian kecil dari Kenyataan yang Mahaluas dan Mahabesar. Namun setidaknya sekalipun ada aspek kenyataan yang tidak kita ketahui, bahwa ada kenyataan adalah kebenaran yang tidak terbantah.

Jadi, Allah tidak lain dan tidak bukan adalah Kenyataan dalam Kesatuan yang sederhana dan tidak terbagi. Karena segala kenyataan mengikuti pola Tritunggal Primordial, maka Allah pun mengikuti pola Tritunggal yang sama, Dia adalah Tritunggal Keberadaan Kenyataan, Pengalaman Kenyataan, dan Kesadaran Kenyataan. Sesungguhnya bahwa ada pengalaman, keberadaan, dan kesadaran di tingkat yang rendah sudah menunjuk dan membuktikan adanya Tritunggal Ilahi, suatu Kenyataan yang Tak Terbatas dan melampaui tritunggal cilik yaitu diri kita masing-masing. Namun pertanyaan berikutnya muncul, apa buktinya bahwa Allah adalah Tidak Terbatas?

Jawabannya sederhana sekali, apakah kita dapat membayangkan Ketidakterbatasan, setidaknya secara konseptual? Kalau ya, maka Ketidakterbatasan itu ada. Apakah kita dapat membayangkan Kenyataan yang Tidak Terbatas? Kalau ya, maka Kenyataan itu ada, sesederhana itu. Jika kita dapat membayangkan Allah dengan segala atribut-Nya, maka Dia ada. Bagaimana mungkin suatu keberadaan dapat dibuktikan hanya dengan imajinasi? Jawabannya diperoleh dari menjawab pertanyaan yang lain, yaitu apakah itu imajinasi?

Imajinasi tidak lain dan tidak bukan adalah pengalaman, dan di mana ada pengalaman di situ pula ada keberadaan dan kesadaran. Kalau kita perhatikan, imajinasi atau pikiran tidak lain dan tidak bukan adalah pengalaman tingkat rendah dari pengalaman kita sehari-hari. Beberapa imajinasi atau pikiran adalah gabungan dari pikiran yang berasal dari kenyataan langsung, jadi kita dapat membayangkan suatu hal yang sebenarnya "tidak ada" di dunia nyata umumnya. Misalnya, seekor unicorn atau pegasus, itu adalah gabungan antara hal-hal yang ada di dalam dunia nyata dan kita satukan dalam pikiran kita.

Pikiran akan yang Tidak Terbatas, secara jelas berasal dari 2 pikiran yaitu "tidak" dan "terbatas". Pikiran "tidak" itu sendiri terkait dengan pikiran "beda". Maka "Tidak Terbatas" adalah sama saja dengan "Berbeda dari yang Terbatas". Masalahnya begini, dalam suatu sistem di mana hanya ada satu substansi, mustahil untuk menjelaskan suatu hal yang bukan substansi tersebut, karena tidak ada substansi lain maka kita pun tidak dapat memahami substansi yang lain tersebut. Mungkin penjelasan itu masih terlalu abstrak, mari kita sederhanakan dengan suatu perumpamaan.

Misalkan di dunia ini tidak ada anjing dan hanya ada kucing. Kalau kita belum pernah melihat anjing, bagaimana kita dapat membayangkan anjing? Namun kita sebenarnya masih dapat membayangkan anjing dengan mengkonstruksikan anjing dari unsur-unsur yang sudah ada di dalam dunia ini. Kalau begitu, bagaimana tidak ada unsur pembentuk anjing, apakah kita dapat membayangkan anjing? Jawabannya tentu tidak. Karena hanya ada kucing, semuanya harus dibahas dalam istilah kucing, tidak ada kemungkinan untuk membayangkan anjing karena memang tidak ada anjing dan untuk membentuk anjing itu tidak mungkin karena tidak ada unsur pembentuk anjing di dunia ini.

Jadi, kalau di dunia ini hanya ada substansi yang terbatas, atau benda-benda yang terbatas, tidak mungkin dan mustahil bagi kita untuk membayangkan bahwa ada yang tidak terbatas. Maka imajinasi yang tidak terbatas hanya dimungkinkan karena kita telah mengalami dulu adanya yang tidak terbatas, dan itulah kenyataan yang paling murni dari setiap diri kita. Sesungguhnya jiwa kita semuanya sudah pernah mengenal Allah, dan sejak pertama kali kita menginginkan Dia, kita merindukan Dia, kita menghendaki Dia. Apa bukti bahwa kita semua menghendaki Allah?

Kita selalu menginginkan lebih, kita selalu mau yang lebih besar. Kita secara alami tertarik pada ketidakterbatasan ini. Bagaimana mungkin kita tertarik pada suatu hal yang tidak nyata sama sekali? Setidaknya Allah hadir dalam bentuk gagasan, dan pemahaman yang tepat akan gagasan ini akan menimbulkan daya tarik dan kerinduan yang amat besar untuk menemui pemenuhan dari gagasan ini. Barangkali memang mustahil untuk mencapai pemenuhan gagasan ini, tapi kalau begitu apa arti pengalamanku yang sudah berjumpa dengan ketidakterbatasan tersebut?

Perdebatan mengenai keberadaan Ilahi bukan tentang adanya entitas super yang dapat melakukan apa saja atau tidak, melainkan mengenai adanya Ketidakterbatasan atau tidak. Sejauh ini ketidakterbatasan hanya hadir dalam suatu gagasan, tapi mari kita maknai ketidakterbatasan secara baru. Ketidakterbatasan secara harafiah artinya tanpa batas, tanpa batas artinya semua. Maka jika "semua" itu sebenarnya secara matematis terbatas, bahwa kita dapat memikirkan suatu angka di atas jumlah semua benda di dalam kenyataan, tidak berpengaruh pada Allah. Karena Allah adalah Kenyataan, maka Allah tetaplah Tidak Terbatas, karena Batasannya ya Diri-Nya sendiri.

Lalu ada satu pemikiran lagi yang dilandaskan oleh aritmatika sederhana. Seluruh kenyataan sebenarnya didasari pada matematika, yang mewujud sebagai kuantitas dan kualitas. Misalnya, cahaya dengan spektrum tertentu itu benar adanya memiliki jumlah ketinggian dan frekuensi gelombang tertentu, tapi kuantitas itu mengarah pada suatu kualitas tertentu yaitu warna. Jadi, kita sebenarnya dapat menyederhanakan semua pengalaman sebagai suatu angka matematis, dan kita dapat membayangkan angka-angka bertambah selamanya. Karena angka dapat ditambah dan ditambah seterusnya sekalipun akan semakin besar dan semakin besar, dan tidak ada suatu titik di mana angka tidak dapat ditambah lagi, artinya ada ketidakterbatasan bahkan di tingkat matematis atau kuantitatif, yang mengarah pada ketidakterbatasan kualitatif pula.

Kesimpulannya adalah Allah sungguh ada, baik sebagai Kesatuan Kenyataan atau sebagai Ketidakterbatasan. Faktanya, hanya Ketidakterbatasan itu sendiri yang sudah tidak dapat ditambah lagi. Karena Ketidakterbatasan itu tidak dapat diubah, hanya yang terbatas dapat diubah. Dengan ini, penalaran tentang keberadaan Allah sudah lengkap dan mulai besok kita dapat segera melanjutkan ke hal-hal lain, terutama terkait ciptaan dan dunia yang kita ketahui ini. Sekarang marilah kita cukupkan dahulu, sampai jumpa!

Comments

Popular Posts